Catatan Rindu Di Sela Rimbun Alismu

Muhammad Kasman | 7:00 AM | 0 komentar
[06.02.2014] Tak lelah aku mengurai rindu di rimbun alismu, menyusur di sela berumpun-rumpun bulu yang melengkung indah, seperti pelangi di ujung hujan, tepat di bawah jidatmu.

Saat kupenat dengan hidup yang kian berat, selalu kuhirup aroma hutan pinus yang segar. Bebau yang membangkitkan kenangan silam, saat kita masih sepasang sayap pada seekor kupu-kupu biru dengan totol-totol keemasan. Bebas terbang meliuk-liuk, dan kita berbagi keseimbangan dengan mengepak berbarengan.

Kini, kita sepasang kekasih, saling berbagi senang dan riang. Meski tak jarang berbagi perih dan ngaga luka, namun semua terasa menyenangkan.

Bila resah mendera dan gelisah membelasah, selain menyambangi pelangi di alismu, akupun kadang mendekam di labirin lesung pipimu. Liang mungil di sisi pipimu yang tirus, membusur cantik seperti bulan sabit di awal terbit, ibarat ayunan tempat bayi-bayi istirah. Di dekap hangat senyum teduh, terlelap dalam buaian lembut semilir nafasmu.

Enam tahun sudah, aku menjadi pengunjung rutin rimbun alis matamu dan menghuni abadi lesung pipimu. Kita merangkai kenangan dalam jahitan waktu, merajut kisah dalam sulaman masa. Merawat dua kuntum kembang yang menanti saat tepat untuk mekar menebarkan harapan, dan seekor kumbang yang siap menerbangkan kenangan.

Masih ingatkah kau ketika kita masih sepasang tekukur yang belajar untuk saling merayu? Dengan kerling tertahanmu setengah malu, kau membuatku tak mampu berpaling dari lentik bulu matamu. Sambil mengintip ke sudut matamu yang bening, aku bersiul lirih, mendendangkan sepenggal syair lagu kesukaanku:

Tellonno ta siduppa mata
Ta kawing nawa-nawa
Ta sibêtta cinna

Lalu kita pun bersitatap, saling membuka pintu hati dan melapangkan jiwa, menautkan serpih rasa yang terserak dalam ikatan yang terberkati. Kita lalu berlomba untuk mengakui bahwa rindu adalah derita yang indah, derita yang selama ini kita nikmati diam-diam.

Kini, memasuki tahun ketujuh kebersamaan ini, aroma pinus rimbun alismu telah menjelma asap setanggi di kuil jiwaku, aroma yang mampu meredam gejolak amarah yang kadang menyembul tak terduga, menenangkan geliat hasrat yang tak terkendali.

Ah, tak kuasa aku melanjut tulisan ini, mari kita berbalas syair dalam rindu yang sederhana:

Turu mêmenni cinnamu
Ritenna êsata mopa
Alla lompêngeng ri majêng

Silolongeng arê’ matti
Coppo’na paddukkuna
Alla wirinna tengngana


# Ketiga penggal syair dalam tulisan ini dikutip dari lagu ‘Bulu Alau’na Têmpê’, ciptaan Abdullah Alamudi. 

Pappoji Balo Lipa’ dan Uruane Cappa’

Muhammad Kasman | 10:30 AM | 0 komentar
[02/02/2014] Beberapa waktu yang lalu, aku menambahkan sebuah widget musik ke blog ini. Dengan meminjam sebuah widget dari portal rappang.com yang memutar sebuah lagu bugis  dengan judul Balo Lipa’ ciptaan Anshar S., aku merasa blog ini akan terasa makin ciamik untuk dikunjungi. Membaca dan mendengar musik sekaligus. Berikut teks lengkap lagu tersebut beserta terjemahan yang saya buat secara bebas.

Balo Lipa’
Cipt: Anshar S.

lemmu’sa nyamamu anri
(betapa tega dirimu, adinda)
musolangi atikku
(kau hancurkan hatiku)
engkamu tudang botting
(kau duduk bersanding)
ri olo matakku
(di depan mataku)

bênêngngi uwisseng mêmeng
(seandainya dari dulu aku tahu)
mappoji balo lipa’mi
(cintamu hanya seperti motif sarung sepuhan)
ri mulanna mofa na dê’ tosirampê
(sedari awal kita tak usah saling mengenang)
Na dê’ tosirampê
(tak usah saling mengenang)

kesippa ro adammu
(betapa indah tuturmu)
ri wettu siolota’
(di saat kita bersitatap)
makkullêna ro anri
(sampai hati dirimu, adinda)
musolangi atikku
(kau hancurkan hatiku)

kesippa ro adammu
(betapa indah tuturmu)
ri wettu siolota’
(di saat kita bersitatap)
makkullêna ro anri
(sampai hati dirimu, adinda)
musolangi atikku
(kau hancurkan hatiku)

monro alê-alê
(ditinggal sendiri)
madoko watakkalê
(menderita jiwa raga)

Setelah beberapa waktu widget itu terpasang, seorang kawan lama di jagad blogger, Shinta ArDjahrie, menghubungiku via blackberry messanger menanyakan bahasa yang digunakan dalam lagu tersebut, “Mas, lagu yang di blog menggunakan bahasa apa? Terjemahin dong, kayaknya lagu sedih ya?” Maka tulisan ini terlahir untuk memenuhi permintaan sang kawan tersebut.

Meskipun tulisan ini tidak akan dibaca lagi oleh Shinta –sebab dia pergi menghadap Ilahi mendahului kita semua, jum’at 24 Januari 2014, namun aku merasa tetap perlu memposting tulisan ini, sebab ini adalah janji yang harus kutunaikan. Telah kujanjikan untuk membuat postingan terkait arti dari lagu ini, agar dia bisa mengerti. Namun karena berbagai rutinitas yang membelit, baru sekarang tulisan ini berhasil kutuntaskan, walau dengan hati tak tenang.

Balo lipa’ secara tekstual berarti motif sarung (hasil celupan), frasa ini seringkali digunakan sebagai perumpamaan bagi sesuatu mudah pudar dan gampang luntur. Salah satu hal yang gampang pudar sebagai mana terungkap dalam lagu tersebut, adalah rasa suka atau kasmaran (bugis: pappoji).  Mappoji balo lipa’ berarti rasa suka yang gampang luntur, sebagaimana lunturnya motif sebuah sarung hasil celupan.

Dalam konteks lagu balo lipa’ yang digubah oleh Anshar S., pemilik pappoji balo lipa’ adalah si perempuan, dan si laki-laki manjadi korban dari cinta palsu tersebut. Namun ada hal yang sedikit menggelitik mendengar lagu ini, si lelaki digambarkan begitu menderita karena kebohongan si perempuan. Setidaknya ada tiga frasa yang menggambarkan betapa menderitanya si lelaki: musolangi atikku (kau hancurkan hatiku), monro alê-alê (ditinggal sendiri), dan madoko watakkalê (menderita jiwa raga).

Ini sebenarnya agak bertentangan dengan karakter lelaki bugis pada umumnya yang pantang bermuram durja hanya karena persoalan asmara palsu. Bahkan merupakan kehinaan yang luar biasa apabila seorang lelaki harus merana hanya karena pappoji balo lipa’ dari seorang perempuan.

Sebenarnya, peristiwa ketika seorang lelaki bugis menerima kenyataan pahit di mana perempuan pujaannya hanya mappoji balo lipa’, merupakan batu ujian, apakah dirinya benar-benar seorang lelaki sejati (uruane sukku’) ataukah hanya seorang lelaki yang telah kehilangan hakikat kelelakian (uruane cappa’). Seperti kata para tetua ‘gau’ mappaddufa tau’, sikap yang menentukan derajat kemanusiaan seseorang.

Bila si lelaki menjadi bertindak bodoh dengan membiarkan diri sendiri berkubang dalam penderitaan yang berlebihan bahkan sampai berdampak buruk bagi dirinya sendiri, ataukah si lelaki membalas dendam, baik kepada lelaki lain yang menjadi pilihan si perempuan, dengan mengambil jalaln kekerasan, atau membalas langsung kepada si perempuan pemilik pappoji balo lipa’, atau membalas kepada perempuan lain dengan mempermainkan hatinya lalu berlalu tanpa rasa bersalah, maka sesungguhnya dia menjadikan dirinya sebagai uruane cappa’.

Dia menempatkan dirinya sendiri pada derajat kemanusiaan yang begitu rendah, di cappa’. Dia menjadi pengecut dengan bertindak sewenang-wenang, menganiaya mereka yang tak berdosa atau tak berdaya, serta menjelma menjadi sosok arogan dan tidak peduli pada tata nilai adat dan norma. 

Shinta, kembalilah dengan tenang...
Innalillahi wainnailaihi rajiun.
Allohhummagfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu anha...

Selamat Datang Tuhan Baru di Tahun 2014

Muhammad Kasman | 1:00 PM | 0 komentar
[31/12/2013] Sebentar malam, kita sudah memasuki tanggal 1 Januari 2014. Bagi pengguna almanak versi Gregorian, itu berarti bahwa sebentar malam adalah Tahun Baru, tahun yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Karena dia momentum yang cuma terjadi sekali setahun, maka dia pantas disambut dengan sukacita. Disambut dengan berbagai pesta dan keriuhan, dentum tetabuhan dan lengking terompet, serta letusan petasan dan pecahan kembang api.

Eh, tak boleh terlupa, berpuluh dan beratus pesan singkat dan panjang, baik dikirim via short message system atau blackberry messenger, berseliweran terkait tahun baru. Ada yang mencela, ada yang memuja, dan ada juga yang mencoba memberi nasehat.

Bahkan sebagian kita --semoga bukan sebagian besar kita, menyambut kedatangan tahun baru dengan lelaku yang tak lazim, lelaku yang diharamkan oleh berbagai agama dan aktivitas yang terlarang dalam berbagai tradisi.

Yang paling masyhur adalah menyambut tahun baru dengan dentuman suara petasan, lengking suara terompet, dan pecahan kembang api yang membakar angkasa. Aktivitas yang tak pernah dipertanyakan tentang keabsahan asal-usul dan latar belakangnya.

Pada mulanya, ritual tahun baru didedikasikan untuk meneladani Dewa Janus, dewa yang juga dikenal sebagai dewa waktu karena dia mampu menjangkau masa lalu dan masa depan sekaligus berkat mukanya yang dua sisi, satu mukanya menghadap ke belakang, satunya lagi menatap ke depan.

Karena meneladani Janus pula, biasanya, tahun baru diisi dengan melakukan evaluasi atas berbagai pencapaian selama tahun yang akan berakhir, dan membuat serangkaian resolusi baru untuk diwujudkan pada tahun yang menjelang.

Namun sekarang, tahun baru disambut dengan menghambur-hamburkan uang untuk mencapai ekstase pada sebuah keriuhan yang maksimum. Ratusan juta harus dikeluarkan untuk membayar harga petasan dan kembang api yang dibakar di malam tahun baru.

Belum lagi bahan bakar yang terbakar habis oleh konvoi para penikmat malam tahun baru, terompet dari berbagai bahan baku, semua menambah jumlah pengeluaran pada malam tahun baru. Semua menjadi lebih permisif, konsumtif dan boros.

Maka tak ada lagi yang mengingat untuk melaksanakan sunnah dari Janus sebagaimana orang-orang Romawi dahlu memperlakukan tahun baru, tak ada lagi refleksi, inisiasi, apalagi rumusan resolusi. Yang ada, semua larut dalam keriuhan pesta.

Kita menyambut tahun baru dengan ajaran dari agama-agama baru dan anjuran dari tuhan-tuhan baru, agama yang mengajarkan kita untuk menyambut tahun baru dengan ibadah pesta, tuhan yang menganjurkan kita khusyu dalam hura-hura.

Maka untuk menyambut kedatangan Tahun Baru 1 Januari 2014, mari kita saling memberi ucapan selamat demi kegembiraan bagi tuhan baru, dan kemeriahan si tahun baru yang akan kita sambut bersama, "Selamat Menyambut Tuhan Baru di Tahun 2014".

Tak lupa, mari kita menyempurnakan penyambutan ini dengan doa singkat, sebuah doa yang bisa menjadi washilah bagi terciptanya kekhusyukan melewati ritual tahunan ini. “Semoga kita kian glamour, komsumtif, permisif, hedonis, dan metroseksual. Amien...”.

Sebab tuhan baru yang selalu menuntut ibadah dalam bentuk pesta yang berhias letusan petasan, pecahan kembang api dan lengkingan terompet di tiap tahun itu tak pernah mau peduli latar belakang agama dan tradisi kita, dia hanya peduli bahwa kita menjadikannya tuhan, dan yang lebih penting: kita belanja dan membeli segalanya, padanya!

Mari Membangun Laut Kita

Muhammad Kasman | 9:00 AM | 0 komentar
[16.12.2013] 13 Desember 29013 kemarin,  kita memperingatinya sebagai Peringatan Hari Nusantara Tahun 2013 dengan mengangkat tema “Setinggi Langit Sedalam Samudera Potensi Pariwisata dan Kreativitas Nusantara Yang Tak Terhingga”.

Tema ini diusung dengan harapan agar bisa menjadi sumber motivasi bagi anak bangsa untuk senantiasa menggali serta menggerakkan sektor pariwisata bahari dan ekonomi kreatif bidang kelautan untuk membangun masa depan bangsa.

Dipilihnya tanggal 13 desember untuk diperingati sebagai Hari Nusantara disandarkan pada momentum dicetuskannya “Deklarasi Djoeanda” pada tanggal 13 Desember 1957, sebagai tonggak perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan Kesatuan wilayah nusantara yang utuh.

Melalui deklarasi ini, Indonesia menyatakan kepada dunia bahwa semua perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang masuk daratan NKRI adalah bagian-bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi RI.

Deklarasi Djoeanda merupakan bukti keberanian Indonesia dalam menjaga keutuhan wilayahnya karena deklarasi ini merupakan pernyataan sepihak yang dikeluarkan pemerintah RI mengenai wilayah perairan Indonesia.

Bahkan beberapa ahli sejarah nasional menempatkan Deklarasi Djoeanda setara dengan peristiwa heroik Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan. Deklarasi ini menjadi pilar utama yang ketiga pada pembangunan kesatuan dan persatuan negara dan bangsa Indonesia.

Pilar Utama Pertama, kesatuan kejiwaan yang dinyatakan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928; Pilar Utama Kedua, kesatuan kenegaraan dalam NKRI yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945; dan Pilar Utama Ketiga, kesatuan kewilayahan (darat, laut, dan udara) yang diumumkan oleh Perdana Menteri Djoeanda tanggal 13 Desember 1957.

Deklarasi Djoeanda juga menjadi tonggak awal pembangunan Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia, yang kemudian secara resmi tanggal 13 Desember ditetapkan sebagai Hari Nusantara melalui Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001.

Untuk puncak peringatan Hari Nusantara Tahun 2013 yang dilaksanakan ada 16 Desember 2013, pantai Talise Kota Palu, Sulawesi Tengah menjadi pilihan lokasi dengan memperhatikan potensi sumber daya kelautan yang besar yang dimiliki oleh provinsi ini.

Lalu apa implikasi peringatan Hari Nusantara bagi Kabupaten Takalar yang memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih tujuh puluh empat kilometer? Apakah pembangunan di Takalar sudah berdimensi kemaritiman, di saat enam dari sembilan kecamatannya berada di daerah pesisir?

Berdasarkan Undang-undang No 27 tahun 2007, daerah yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, harus membuat Rencana Strategis yang memuat arah kebijakan lintas sektor untuk kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan tujuan, sasaran, dan strategi yang luas, serta target pelaksanaan dengan indikator yang tepat untuk memantau rencana tingkat nasional.

Rencana strategis wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus memperhatikan dimensi kedaulatan negara, dimensi pengendalian lingkungan hidup, dan dimensi situs warisan dunia, yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional.

Dalam konteks pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Takalar, setidaknya ada empat kebijakan strategis yang dibutuhkan. Pertama, pembuatan rencana strategis pengolahan wilayah pesisir dan pulau; kedua, rencana pengolahan; ketiga, rencana Zonasi; dan keempat, rencana aksi.

Pemerintah perlu didorong agar segera menerbitkan payung hukum untuk memperjelas pengaturan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Takalar yang selama ini hanya dibatasi dan diatur oleh kesadaran individual masyarakat.

Selama ini, tanpa payung hukum yang jelas, wilayah pesisir Galesong Utara, Galesong dan Galesong Selatan menjadi daerah tangkapan, sementara pesisisr selatan Takalar, yang meliputi Kecamatan Sanrobone, Mappakasunggu, dan Mangarabombang, berkembang menjadi kawasan budidaya.



Orang Udik Tak Sadar Momentum

Muhammad Kasman | 7:00 PM | 0 komentar
[11.12.2013] Mungkin aku ini tipe orang udik, kampungan, kurang bergaul, atau sebut saja tak sadar momentum. Betapa tidak, ketika sebagian orang disekitarku sibuk memposisikan hari ini –tanggal 11, bulan 12, tahun dua ribu 13, sebagai hari istimewa dengan berbagai cara, aku menyambut hari ini tak ubahnya dengan hari-hari yang lain.

Ada yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari keberuntungan karena angka kalendernya berurut, 11-12-13. Pendapat ini diperkuat dengan berbagai macam ramalan hasil cenayang. Ada pula yang melaksanakan peristiwa bersejarah dalam hidupnya pada hari ini: melaksanakan pernikahan, melahirkan anak, membeli sesuatu, dan berbagai macam kegiatan yang lain.

Aku, yang lahir pada tanggal 11 Desember 1979, yang berarti bahwa pada tanggal 11 Desember 2013 hari ini, aku berulang tahun yang ke-34, tidak menganggap hari ini sangat istimewa sehingga harus diperlakukan spesial. Bahkan perayaan kecil atas hari ulang tahunku pun tak kulakukan sama sekali.

Semalam aku jalani seperti biasa, kesulitan tidur. Malam berlalu tanpa tidur panjang, aku memilih membaca beberapa buku untuk menuntaskan tugas kuliah yang menumpuk. Yang terasa aneh hanyalah betapa begitu banyak orang yang menunggu momentum 11-12-13 ini.

Sejak hari berganti dari 10-12-13 ke 11-12-13, dinding akun facebook, pesan di BBM, SMS dan akun twitter milikku, dikunjungi oleh begitu banyak pesan dengan isi yang hampir sama, mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Rupanya begitulah rasanya ulang tahun, mendapatkan ucapan selamat, seuntai doa, dan tuntutan untuk ditraktir.

Padahal, aku tak memikirkan momentum 11-12-13 ini sebagai momentum yang luar biasa karena aku berulang tahun di tanggal itu. Aku lebih memikirkan bagaimana agar setumpuk tugas yang aku kerjakan bisa selesai, sehingga bisa aku serahkan kepada dosen tepat pada waktunya.

Aku sudah punya rencana untuk hari ini, yang tidak berhubungan dengan ulang tahunku sama sekali. Sampai dinihari aku mengerjakan tugas, paginya aku ikut kuliah, siangnya menghadiri pernikahan keluarga dekat, setelahnya, aku berencana menghadiri rapat kerja Pimpinan Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Kabupaten Takalar.

Tapi apa daya, semua di tangan Tuhan. Begitu waktu tidurku semalam berkurang, fisikku bereaksi, badan terasa pegal, letih, dan lesu. Kuliah pagi tak sempat keburu, tugas-tugas masih menuntut untuk diselesaikan, akad nikah berlalu tanpa kehadiranku, dan raker Kahmi tak sempat kusambangi.

Maka hari ini, 11-12-13 aku jalani seperti biasanya ketika aku diserang clinomania akut, membolak-balik berbagai bacaan di tempat tidur, sesekali membalas ucapan selamat ulang tahun di akun facebook dan di BBM. Aku menjadi manusia udik, tak sadar betapa hari ini begitu menarik bagi sebagian orang.

Tadi aku sempat berfikir, jangan-jangan ada yang ingin membeli hari ulang tahunku hari ini, sebab tanggalnya adalah tanggal cantik, hokinya bagus, penuh keberuntungan, dan berbagai atribut istimewa lainnya. Tapi aku tak sempat melelangnya, aku memilih membiarkan hari ini berlalu begitu saja.

Tentu aku tetap menghargai bahwa hari ini aku genap berusia 34 tahun. Bahkan sambil membolak-balik badan di pembaringan, aku melontarkan beberapa tanya ke diri sendiri. Sudah berapa banyak yang aku perbuat untuk sesama dengan umur yang sudah setua itu? Sudah berapa besar pesan kebaikan yang aku sampaikan?

Semua tanya tak mampu aku jawab, bahkan membuat kerinduanku akan bau bantal guling, dan aroma kasur kian hangat merengkuhku. Aku menyembunyikan kepala di bawah selimut, bersembunyi dari dunia yang sudah sekian lama menghidupiku, dan aku tak mampu membalas kebaikannya meski cuma secuil.

Namun di sore hari, ketika pesan berantai di BBM berseliweran kesana-kemari membawa kabar bahwa hari ini adalah hari keberuntungan, ketika akun facebook kepunyaanku dibanjiri ucapan selamat ulang tahun dan beragam doa kebaikan atasku, aku terhenyak dan mengingat sesuatu yang menurutku lebih pantas untuk dikenang.

11 desember 1946, sebanyak 123 orang pasukan Korps Speciale Troepen (KST) Belanda di bawah pimpinan Kapten KNIL Reymond Paul Pierre Westerling, memulai pembantaian warga Sulawesi selatan di Desa Batua Makassar. Pembantaian yang berlangsung hingga 21 Februari 1947 diyakini menelan korban ribuan orang, bahkan peristiwa ini kemudian diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa.

Ingatan ini membalik kesadaranku, bahwa yang udik sesungguh-sungguhnya udik bukanlah aku yang tidak mampu melihat betapa cantiknya tanggal hari ini. Yang lebih pantas disebut udik adalah mereka yang gagap dalam menerima informasi, dan gagal memilah mana informasi yang sehat, mana informasi sampah tanpa guna.

Juga termasuk dalam kategori udik adalah mereka yang amnesia terhadap sejarahnya, lupa terhadap masa lalunya, dan alpa akan spirit yang sepantasnya mereka warisi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Siapa yang tak melupakan bahwa hari ini adalah Hari Korban 40.000 Jiwa, hanya mereka itulah yang tak udik hari ini.

Maka dengan kesadaran itu, kurenungi hari ulang tahunku dengan makna baru. Hari ini, 11-12-13 tidak menjadi istimewa karena tanggalnya cantik, dan berbagai ramalan yang dilekatkan padanya. 11-12-13 menjadi istimewa karena hari ini adalah hari pengorbanan, hari syahadah bagi ribuan orang Sulawesi Selatan demi menyaksikan kemerdekaan.

Dan akan menjadi lebih istimewa karena aku lahir pada tanggal itu. Tentu ini akan terwujud bila aku bisa menjadi seorang pribadi yang agung, pribadi yang dibangun atas semangat pengabdian pada sesama dan pengorbanan untuk kebaikan bersama. Salama’ki’...

Cinta, Rasa Syukur, dan Tuhan Yang Sembunyi

Muhammad Kasman | 11:00 PM | 0 komentar
[10.12.2013] Sejatinya, aku membuat tulisan ini kemarin, tapi karena deraan kemalasan dan #GagalFokus, maka baru hari ini kusempatkan diri menulis sebagai kenangan atas peringatan hari lahir anakku yang pertama, Qonitah Wafiyah Tenri Bilang Daeng Ranne, atau yang kami sapa dengan panggilan Cinta.

Kemarin, Cinta genap berusia lima tahun sejak kelahirannya, 09 Desember 2008 silam. Tak ada perayaan istimewa untuk merawat kenangan atas hari lahirnya, kecuali doa untuknya –yang sedikit lebih panjang dari hari-hari sebelumnya.

Oh ya, hampir terlupa, Cinta mendapatkan hadiah dari mamanya berupa seperangkat alat tulis-menulis yang terdiri dari tas, alas menulis, krayon, dan kotak pensil. Sebuah hadiah yang memang dia butuhkan untuk mendukung aktivitas sekolahnya.

Cinta memperlakukan tasnya dengan begitu istimewa, dia tidak berniat untuk menggunakan tas tersebut ke sekolah, dia ingin menyimpannya sebagai pajangan yang menyenangkan. Di hari ahad (08/12/2013) sore, ketika kakek dan neneknya mampir, tas itu menjadi bahan ceritanya.

Kita sudahi kisah tas sekolah si Cinta sampai di sini. Dalam tulisan singkat ini, aku mau menceritakan percakapanku dengan Cinta tadi siang sepulang dia dari sekolah dan aku sedang berada di rumah. Sebuah percakapan ngalor-ngidul terkait ulang tahunnya.

Begitu usai ganti baju, Cinta mendatangiku di dapur –aku sedang menggoreng telur dadar pesanan si Mehdi, adiknya. Dengan gaya sok dewasa, Cinta langsung menghampiriku, bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan, dan melongok ke atas wajan.
“Sedang apaki’, Tetta?”
“Menggoreng telur untuk adik Mehdi, mauki’ juga digorengkan telur?” Jawabku.
“Ooooo... menggoreng telur?”
“Iyye’, mauki’ juga?”
“Tidak, masih kenyangka’, Tetta.”

Cinta berlalu, dia menghampiri Mehdi, adiknya yang lagi duduk melantai di depan lemari pendingin sambil mempermainkan piringnya, menati telur dadarnya siap dihidangkan. Sambil ikut duduk di lantai di samping adiknya, Cinta bicara ke arahku.
“Tetta, saya pakai tas baruku’ tadi ke sekolah.”
“Tas baru yang mana? Siapa belikanki’?” Aku pura-pura bertanya.
“Itue, tas yang warna pink, nabelliyangnga’ mamaku’ kemarin.” Jelasnya dengan logat Makassar yang kental.
“Ada nabelikanki’ mamata’ tas baru?” Tanyaku lagi.
“Ada dong, hadiah ulang tahunku.” Jawabnya sambil tersenyum ceria.

Sambil meniriskan telur dadar yang sudah matang, aku melanjutkan cerita dengan Cinta.
“Sudah maki’ bersyukur, Nak?”
“Bersyukur apa, Tetta?”
“Bersyukur karena ulang tahunki’ dan nabelikanki’ tas, Mama.”
“Belumpa’ Tetta, hehehehe..... Marahki Allah kalau tidak bersyukurki’?” Waduh, pertanyaanya mulai agak sudah nih.
“Iyye’, kalau tidak bersyukurki’ pasti marahki Allah, Nak.” Jawabku sekenanya.
“Memang(nya), nalihatka’ Allah,Tetta?” Ah, Cinta, pertanyaanmu makin sulit, Nak.
“Iyye’, Allah Maha Melihat, Nak.”
“Besar matana Allah, Tetta? Bisa nalihat semuana?” Bagaimana aku menjawab pertanyaan ini dengan penjelasan yang sederhana dan bisa dia mengerti? Plisssss....

Aku tak langsung menjawab pertanyaan Cinta yang terakhir, aku memilih melayani Mehdi yang sudah menanti dari tadi, aku menambahkan kecap ke atas telur dadarnya.
“Tetta, nalihatki’ juga Allah, Tetta? Semuana?” Cinta terus memburuku, dia membutuhkan jawaban.
“Iyye’ Nak, Allah Maha Melihat..... Allah juga Maha Besar.” Aku menjawab seadanya, sambil mencari penjelasan yang lebih tepat.
“Ooooo....” Cinta terlihat melongo, aku berdoa, semoga tak ada pertanyaan lanjutan.

Tapi ternyata, doaku kali ini sangat tidak makbul, Cinta melanjutkan kalimatnya.
“Tapi kenapa tidak kulihatki Allah, Tetta? Na besar sekali? Sembunyiki Allah, Tetta?” Cecar Cinta.
Aku terdiam, cukup lama, kesulitan menemukan penjelasan yang tepat. Tiba-tiba, Mehdi dengan gaya bicaranya yang masih cadel, nyeletuk.
“Cembunyiti Allah, Tetta. Cecilti mataNa, jadi tidak telihatangngi”. Ternyata dari tadi Mehdi menyimak percakapanku dengan kakaknya dan dia berpikir bahwa Allah tidak kelihatan karena Dia sembunyi, dan mataNya juga kecil.

“Kecil mataNya Allah, Tetta?” Cinta terpengaruh oleh celetukan adiknya. Aku yang kian bingung harus menjawab seperti apa.
“Iyya, Cecilti mataNa.” Mehdi kembali berkomentar sambil mencomot telur dadarnya sedikit demi sedikit.
“Oooo... Naintipki’ Allah,Tetta?” Wow, lagi-lagi Cinta terpengaruh oleh komentar adiknya.
“Iyya, naintipti’ dayi jendeya.” Malah Mehdi yang kembali menimpali bahwa Allah mengintip mereka dari jendela.

Kukuatkan batin, aku mencoba menjawab.
“Tidak, Nak. Allah Maha Besar dan Maha Melihat, Dia tidak sembunyi, tidak mengintip juga!” Jawabku dengan suara ditegas-tegaskan. Aku menncoba menunjukkan otoritas karena kesulitan menemukan jawaban yang tepat. #Modus, hehehehehe.....
“Kenapa pale’ tidak kulihatki Allah, Tetta?” Cinta masih saja terus memburu jawaban.
“Itu karena Allah terang sekali, Nak. Silau mata kalau dilihatki.”
“Jadi tidak bisa dilihat Allah, Tetta?”
“Iyye’, Nak. Allah itu terang sekali cahayaNya, jadi tidak bisa dilihat.”
“Oooooo....” Cinta cuma mengucapkan itu, lalu beranjak meninggalkan dapur.
“Oooooo....” Mehdi mengikuti ekspresi kakaknya, dan ikut beranjak dari dapur.

Tinggal aku sendirian di dapur, berpikir keras, apakah Cinta mengerti penjelasanku sehingga tidak bertanya lagi, atau dia merasa terintimidasi dengan caraku menjawab melalui suara yang lebih tinggi. Tapi yang pasti, nampaknya aku harus belajar banyak untuk menjawab pertanyaan sejenis, atau bahkan pertanyaan yang lebih rumit dari Cinta, atau dari Mehdi nantinya.
 
Copyright © 2013 | Muhammad Kasman | All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji