We Tenri Sanna dan La Putê Mata

muhammad kasman | 8:23 AM | 0 komentar
[29.10.2014] Malam ini saya akan menagih janjinya, janji seorang lelaki paruh baya yang kusapa dengan panggilan ayah, tak seperti teman sebayaku yang memanggil orang tua lelakinya dengan panggilan etta. Kemarin malam dia menjanjikannya padaku, janji untuk menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur. Dongeng yang kutuntut kepadanya setelah saya tahu bahwa para pangeran dalam dongeng senantiasa diberi dongeng pengantar tidur sebelum mereka terlelap di malam hari.

Lelaki itu, lelaki yang kupanggil ayah adalah seorang guru madrasah aliyah di ibu kota kabupaten yang berjarak sekitar lima belas kilo meter dari kampung tempat kami menetap. Setiap pagi dia berangkat kerja dengan mengenakan baju seragam guru yang tak pernah digantinya selama seminggu, dia berangkat dengan menumpang mobil angkutan yang tak punya jadwal khusus.

Saya sangat penasaran malam ini, dongeng apakah yang akan ia ceritakan sebab sangat jarang dia kulihat bercerita. Sepulang dari sekolah, dia selalu sibuk membolak-balik kertas hasil tugas siswanya, hanya sesekali dia bicara singkat dengan ibuku. Apakah dia akan mendongeng dengan baik, padahal setahuku, dia bukan guru bahasa, dia seorang guru akidah. Jangan-jangan dia akan menceritakan kisah tentang neraka yang menakutkan atau malah tentang bidadari yang kecantikannya luar biasa.

Tapi kok lelaki itu belum juga mendekati tempat tidurku? Dia masih saja asyik memelototi layar televisi hitam-putih yang gambarnya dikerubungi semut hitam itu. Dia lagi menikmati Dunia Dalam Berita, tontonan wajibnya setiap malam. Lamat-lamat saya dengar Usi Karundeng sedang menceritakan tentang gempa di Brasil, banjir di India dan kebakaran hebat di Kanada.

Terkadang saya merasa heran dengan kebiasaannya itu, menonton Dunia Dalam Berita sudah menjadi wajib baginya, sebagaimana wajibnya sholat lima waktu bagi seorang muslim. Tak ada satupun malam tanpa Dunia Dalam Berita, kecintaannya pada siaran itu hanya dikalahkan oleh kecintaannya pada kegiatan mengajarnya. Makanya saya ragu, apakah dia akan menepati janjinya malam ini untuk bercerita.

Saat Usi Karundeng mengakhiri informasinya, dia beranjak mematikan televisi hitam-putih itu dengan langkah pelan, maklum rumah panggung, gerakan sekecil apapun akan membuat seluruh rumah merasakan gerakan tersebut. Setelah itu, lelaki dengan model rambut Umar ini mendekati tempat tidurku yang kelambunya sudah dari tadi saya turunkan.

Tentang model rambut Umar, nampaknya ayahkulah yang menemukannya sebab tak ada satupun tukang cukur di pasar kampungku yang tahu dengan model rambut ini sebelum ayahku meminta rambutnya di model seperti itu. Saat itu, Umar Wirahadi Kusuma sedang menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Ketika akan memangkas rambutnya, ayahku datang ke tukang cukur langganannya, Daeng Janggo’ dengan membawa poster Wakil Presiden yang dia pinjam dari sekolah tempat dia mengajar. Sejak itu, model rambut seperti model rambut ayahku dinamai model Umar. Kalau kalian mau mengikuti model rambut ayahku, datang saja ke Daeng Janggo’ dan minta model rambut Umar.

Perlahan dia sibak pintu kelambu dan duduk di pinggir tempat tidur, sepertinya siap memenuhi janjinya semalam.
“Kau belum tidur kan, La Upe’?”
“Belum ayah, saya menunggu dongeng yang ayah janjikan semalam.”
“Serius kau mau mendengar ayahmu ini berdongeng?”
“Tentu ayah, saya rindu suasana dimana seorang pangeran senantiasa mendengar dongeng pengantar tidur sebelum terlelap.”
“La Upe’, maukah kau berjanji bahwa dongeng ini tidak boleh engkau ceritakan kepada orang lain?”
“Memangnya kenapa ayah?”
“Dongeng ini bukan dongeng biasa, dongeng ini telah diisi mantra oleh salah seorang tokoh dalam dongeng itu sendiri, Nene Pakande namanya.”

Mendengar keterangan ayah, saya menarik kain sarung hingga menutupi hampir seluruh tubuhku. Nene Pakande adalah sosok yang begitu menakutkan, bukan hanya bagi saya yang masih kanak-kanak, bahkan bagi sebagian besar warga di kampung kami, Nene Pakande masih menjadi momok yang sangat menakutkan.
“Kenapa terdiam? Apakah kau berubah pikiran?”
Tak mau dicap sebagai penakut, saya memberanikan diri untuk berkata tidak.
“Tidak ayah, saya tidak takut. Bukankah itu sekedar dongeng?”
“Kalau memang demikian, baiklah saya akan menceritakan dongeng ini padamu.”
Saya menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Pusatkan pikiran, dan minta perlindungan dari Allah agar tidak terkena tuah ilmu Nene Pakande dari dongeng ini.”
Bismillahirrahmanirrahim....” Rapalku perlahan, kedua belah tanganku kutiup, saling kugosok-gosokkan, lalu kuusapkan ke seluruh tubuh dengan harapan Nene Pakande tidak akan menggangguku. Melihat tingkahku, lelaki yang kupanggil ayah itu tersenyum, lalu memperbaiki posisi duduk untuk memulai ceritanya.

*     *     *

Tersebutlah sebuah kampung yang bernama Tenrita, hiduplah empat orang sahabat karib La Lebba’ Pale’, La Lampê Tappi Bangkung, La Umpe’ Rai, dan La Paddaga-daga Bulu. Mereka bertiga baru berusia belasan, tapi sudah terkenal karena kemuliaan hati dan ketulusan jiwa yang mereka miliki. Mereka tak segan untuk menolong orang yang kesusahan, membantu yang kesulitan, dan meringankan beban mereka yang sedang dirundung masalah. Karena sifat baik mereka itulah maka keempatnya sangat disukai oleh penduduk kampung Tenrita.

La Lebba’ Pale’ dengan wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis. Sudah banyak orang tua yang mencoba menjadikannya sebagai menantu tetapi di tolaknya dengan halus. Pemuda yang terkenal karena kedua telapak tangannya sangat luas, bahkan menurut cerita memiliki telapak seluas lapangan sepak bola ini, belum berniat untuk mengakhiri masa lajangnya.

La Lampê Tappi Bangkung, seorang pemuda berperawakan tinggi dan agak kurus. Rambutnya dibiarkan menjuntai sampai di pertengahan punggung, terlihat selalu tersisir rapi dan diikat di bagian ujung dengan pita warna merah jambu. Kumis tebal melintang di atas bibirnya yang lumayan tebal menunjukkan karakternya yang pemberani. Ke mana-mana dia membawa parang yang demikian panjang, sehingga ujung parangnya masih kelihatan di kaki tangga rumah panggungnya meskipun dia sudah meninggalkan rumah selama tiga bulan lamanya.

La Umpe’ Rai, sosok yang paling jorok di antara mereka bertiga. Pemuda ini tak pernah mandi sekalipun sejak di lahirkan, maklum saja dia phobia air. Inilah yang membuat dakinya demikian tebal menyelimuti seluruh tubuhnya, kecuali pada bagian telapak kaki. Ketebalan dakinya memang tak tanggung-tanggung, untuk mengukur ketebalannya, pernah suatu kali parang panjang milik La Lampê Tappi Bangkung dipakai untuk menusuknya. Ketika parang itu sudah masuk menembus daki La Umpe’ Rai, ujung pedangnya belum menyentuh kulitnya sedikitpun.

La Paddaga-daga Bulu adalah sahabat paling muda diantara mereka berempat. Pemuda pendek gempal ini seringkali di cemooh karena tubuhnya yang cetek, namun ini berbanding terbalik dengan keahliannya bermain sepak raga. Di kampung Tenrita, dia terbiasa menjadikan gunung sebagai pengganti bola dalam permainan sepak raga. Sekali dia menendang gunung, terkadang sampai berhari-hari gunung itu baru muncul dari balik awan untuk dia tendang kembali. Memang, dia memiliki kaki Selebar tangan La Lebba’ Pale’.

Mereka adalah empat sahabat yang tak terpisahkan, di mana ada salah seorang diantaranya, di situ pasti ada yang tiga lainnya. Seorang mendapatkan kesulitan, mereka berempat pasti ikut terlibat menyelesaikannya. Mereka saling mendukung dan melindungi, bahkan mereka telah bersumpah untuk saling mengangkat sumpah sebagai saudara dengan menggunakan jempol darah. Tentu pengecualian bagi La Umpe’ Rai untuk menggunakan jempol kaki, karena jempol tangannya sangat susah dilukai akibat begitu tebalnya daki yang menutupi.

Suatu hari mereka mendengar kabar tentang seorang gadis cantik jelita mengadakan sayembara untuk mencari calon suami yang bisa mendampinginya dalam mengarungi kehidupan. Barang siapa yang bisa bertahan untuk tidur di rumah sang gadis, semalam saja, maka dia adalah pemenangnya, dan berhak menjadi suami si gadis. Gadis yang hidup sebatang kara ini, tinggal pada sebuah rumah panggung yang demikian besar di kaki gunung Temmaka-maka.

Sudah banyak pemuda dari berbagai kampung yang mencoba peruntungan dalam sayembara untuk menjadi suami gadis yang mengaku bernama We Tenri Sanna ini, namun tak ada satupun yang kembali. Pemuda itu seperti hilang, lenyap menguap ke udara. Begitu mereka memasuki pintu rumah tersebut, tak pernah lagi mereka muncul keluar, bahkan untuk sekedar menikmati indahnya pemandangan kaki gunung Temmaka-maka dari teras rumah.

Empat sahabat dari kampung Tenrita merasa penasaran dengan kejadian ini, mereka merasa ada yang tidak beres dengan si gadis yang muncul entah dari mana itu. Kehadiran We Tenri Sanna yang telah memakan korban puluhan pemuda dari berbagai kampung membuat mereka berniat mengusut apa sebenarnya yang terjadi. Merekapun menyusun rencana pengintaian.

Ketika seorang pemuda kampung Tenrita yang bernama La Putê Mata berangkat menuju rumah We Tenri Sanna, La Lebba’ Pale’ dan para sahabatnya telah lebih dulu ada di sekitar rumah tersebut melakukan pengintaian. Begitu La Putê Mata tiba di halaman rumah, La Paddaga-daga Bulu telah siap di bawah rumah, La Umpe’ Rai di sisi kiri, La Lampê Tappi Bangkung di sisi kanan dan La Lebba’ Pale’ di atap rumah.

Ketika La Putê Mata memasuki pintu rumah, dia langsung disambut dengan ramah oleh We Tenri Sanna, mereka berbincang secara hangat, menikmati berbagai penangan enak yang disiapkan tuan rumah. Tak ada yang mencurigakan sampai malam tiba. La Putê Mata dipersilahkan untuk istirahat di sebuah kamar di sisi depan rumah sebelah kanan sambil menunggu tuan rumah mempersiapkan hidangan makan malam yang akan dihidangkan pas tengah malam nanti.

Menjelang tengah malam, keanehan pun dimulai. Ketika La Putê Mata terlelap, dari arah belakang rumah muncul seekor babi jantan gemuk dengan memakai rantai emas menaiki tangga rumah bagian belakang. We Tenri Sanna membuka pintu dan menyambutnya, begitu melewati pintu, babi jantan itu menjelma menjadi sesosok tubuh lelaki tinggi, yang gagah perkasa, dadanya bidang, bahunya kekar. Mereka lalu berbincang dan bercengkrama sejenak.

Begitu waktu menunjukkan pas tengah malam, lelaki jelmaan babi itu naik ke atas meja makan yang di atasnya telah tertata berbagai piring dan mangkuk kosong yang terbuat dari keramik. Dia kencing ke dalam mangkuk sayur, berak ke atas bakul nasi, lalu muntah ke atas piring ikan, dan meludah ke piring sambel. Begitu dia selesai, di atas meja makan telah terhidang berbagai jenis makanan nikmat yang mengundang selera.

Tak lama kemudian, dia meninggalkan We Tenri Sanna yang sudah berhias secantik mungkin. Begitu melewati pintu, lelaki itu kembali menjelma menjadi seekor babi jantan gemuk dengan seuntai rantai emas melingkar di leher. Saat itulah, We Tenri Sanna membangunkan La Putê Mata dan mengajaknya untuk bersantap malam dengan diterangi oleh pelita. Semua kejadian itu, disaksikan oleh La Lebba’ Pale’ dan kawan-kawannya dalam diam dan nafas yang tertahan.

La Putê Mata menyantap hidangan dengan lahap, nasi putih yang mengepul dan beraroma harum, sayur paria kambuh berkuah santan, ikan Baronang bakar, sambel tomat, serta ikan Bandeng di masak pallu kacci. We Tenri Sanna tak ikut makan, hanya memperhatikan La Putê Mata sambil sesekali melemparkan senyum yang luar biasa indahnya.

Begitu selesai makan, La Putê Mata merasa demikian mengantuk sehingga dia pamit untuk melanjutkan istirahatnya. Namun baru beberapa langkah dia beranjak dari meja makan, tubuhnya terhuyung, melayang jatuh ke lantai kayu. Dengan cepat We Tenri Sanna melompat menahan tubuh tersebut dengan satu tangan, dan dengan ringannya, tubuh La Putê Mata dia angkat masuk ke ruang tidurnya sendiri yang berada tepat di samping ruang makan.

Tubuh La Putê Mata diletakkan di atas pembaringan yang berbalut sutera, lengannya disedekapkan di atas dada ibarat laku sembahyang. Dari samping lemari hias, We Tenri Sanna mengeluarkan sebuah mangkuk dupa, dinyalakannya, dan asap beraroma harum pun mengepul memenuhi seantero ruangan. Dia duduk bersila di atas pembaringan tepat di samping tubuh La Putê Mata, mulutnya merapal mantera dan sepasang tangannnya menari-nari di sekujur badan La Putê Mata.

Ketika asap dupa sudah mulai memudar, perlahan We Tenri Sanna mengecup sepasang bibir La Putê Mata yang menyebabkannya terbangun. Tak ada kata yang keluar dari mulut La Putê Mata, hanya seuntai senyum yang begitu sayu dan pandangan mata kosong. Perlahan dia turun dari pembaringan, diikuti oleh We Tenri Sanna. Mereka berjalan ke luar kamar dan langsung menuju pintu belakang.

Begitu pintu belakang tersibak, di sana ternyata telah menanti seekor babi jantan gemuk dengan memakai rantai emas. La Putê Mata terus melangkah, ketika melewati pintu menuju tangga, tubuhnya pun menjelma menjadi seekor babi, tak jauh beda dengan babi yang menunggunya di ambang pintu. Kedua babi itu pun berjalan beriringan meninggalkan rumah menuju hutan. We Tenri Sanna menutup pintu belakang, menuju kamar tidur, dan terlelap hingga pagi.

Begitu sinar mentari berpendar menyinari bumi, berita kehilangan La Putê Mata juga tersebar demikian cepat. Penduduk desa kembali gempar akan kejadian aneh yang tak bisa terjelaskan ini. Tiba-tiba saja La Putê Mata raib seperti ditelan bumi, tak ada kabar, tak ada berita. Seakan-akan kehilangannya memang sudah dipastikan sejak dulu.

Empat sahabat dari kampung Tenrita, baik La Paddaga-daga Bulu, La Umpe’ Rai, La Lampê Tappi Bangkung dan La Lebba’ Pale’ pun tak mampu menjelaskan peristiwa aneh yang mereka saksikan bukan dengan mata pinjaman, melainkan dengan mata mereka sendiri yang melekat di kepala masing-masing. Mereka yakin, kehilangan La Putê Mata jelas berhubungan dengan kejadian aneh yang melingkupi kehadiran We Tenri Sanna di kaki gunung Temmaka-maka, tapi bagaimana membuktikannya?

*     *     *

“Ayah, apa La Lebba’ Pale’ dan kawan-kawannya berhasil mengungkap misteri We Tenri Sanna?” Saya penasaran dengan kelanjutan kisah yang diceritakan ayah.
“Kau mau tahu kelanjutannya La Upe’?”
“Mau dong ayah..” Jawabku antusias.
“Kalau begitu, tidurlah. La Putê Mata akan menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya sejak dia menjelma menjadi seekor babi di tangga belakang rumah We Tenri Sanna. Tapi besok malam ya.”
“Baiklah, selamat tidur Ayah.
“Selamat tidur Nak.”

Lelaki yang selalu kusapa ayah itu membetulkan letak selimut di atas tubuh ringkihku. Perlahan dia beranjak dan mematikan lampu kamar sambil menutup pintu.




.....bersambung

Hari Merah Jambu

muhammad kasman | 9:00 PM | 0 komentar
[27.10.2014] Banyak orang yang bilang bahwa masa SMU adalah masa merah jambu.
Masa di mana kita mulai beranjak dewasa, sudah bisa menentukan pilihan tanpa aturan ketat dari orang tua. Di masa SMU inilah kita mulai merasakan virus merah jambu itu meyerang. Jantung berdebar-debar ketika ditatap oleh lawan jenis, apalagi kalau yang menatap itu kece, pipi ikut merona jadinya.
                               
Tapi Fana tidak begitu peduli dengan semua itu.
Fana menganggap itu sekedar gosip dari orang-orag yang nggak punya kerjaan. Bagi Fana, masa SMU adalah masa belajar, belajar serius.
Apalagi sekolahnya di madrasah Aliyah, sekolah agama.

Itu hanya bertahan satu tahun.
Di awal tahun kedua, pas naik kelas, virus merah jambu itu mulai menyerangnya. Fana tak mampu menyangkalnya. Geletar aneh itu mulai menyerangnya ketika seorang cowok, murid baru pindahan dari pesantren ditempatkan di kelasnya. Belum semingu kenalan, dia sudah berani mengungkapkan perasaannya pada Fana.

Fana jadi bimbang.
Asa hati tak menentu.
Mungkinkah ini yang namanya cinta?
Tanya Fana dalam hati.

*   *   *   *   *

Suara motor terdengar dimatikan.
“Assalamu ‘alaikum.”
Yani masuk rumah dan langsung masuk kamarnya setelah terlebih dahulu mencium tangan ibunya.
“Yani masuk dulu, Ma.”
Ibunya hanya mengangguk mengiyakan.

Fana dan sang ibu menatapnya keheranan sampai Yani menghilang dari balik pintu kamar. Keduanya saling berpandangan.
“Apa nggak salah tuh, ma?” Fana bertanya keheranan.
“Iya, ya, mama juga keheranan, sejak kapan kakakmu kayak gitu.” Jawab sang ibu tak kalah herannya.

Memang, sore itu penampilan Yani lain dari sebelumnya. Celana jeans ketat, baju kekecilan dan jilbab mini dari bahan kaos yang selama ini menyertainya, sudah hilang, diganti dengan baju terusan yang berwarna lembut dipadu dengan jilbab berwarna senada.

Yani kelihatan lebih anggun dengan pakaian model barunya tapi tetap saja mengherankan Fana dan ibunya.
“Apa yang terjadi dengan kakakmu Fana? Kok tiba-tiba dia berubah seperti itu?” Ibunya balik bertanya ke arah Fana.
“Mana Fana tahu, Ma? Coba saja tanya sendiri sama kak Yani.” Jawab Fana sekenanya sambil mengangkat bahu.
“Betul juga, nanti ibu menanyainya pas makan malam. Jangan lupa ingatkan mama, ya?” Seru ibunya sambil beranjak menuju dapur.
“Beres, Ma.”
Fana tersenyum ke arah ibunya.

Untuk memperturutkan rasa penasarannya, Fana beranjak menuju kamar kakaknya. Diketoknya pintu kamar yang didapatinya terkunci.
“Kak Yani, Fana boleh masuk!?” Teriak Fana dari luar.
“Tunggu sebentar!!! Jawab Yani dari dalam kamar.
Tak begitu lama, pintu kamar Yani terbuka.
“Masuk aja Fan, tumben ke kamar kakak, ada apa?”

Sambil masuk kamar dan menghempaskan badannya di atas tempat tidur, Fana menjawab,
“Mo ngingetin kak Yani.”
“Tentang apa?” Tanya Yani penasaran.
“Si Edo sudah dua kali menelepon ke sini nyari kak Yani.”
“Apasih maunya tuh anak nyari aku terus?”
“Masak kak Yani nggak ngerti sih? Eh, kak Edo tuh gagah juga ya?”
“Hus, ngaco kamu!”
“Kakak dari mana aja sih? Kakak ikut acara apaan, sampai seminggu nginap di luar? Terus kata si Edo, handphone kak Yani tidak pernah aktif, makanya dia nelepon ke sini cari kakak.”
“Ah, udah deh Fan, sekarang nggak ada Edo-edoan dalam kamus kak Yani!! Nggak ada pacaran sebelum menikah!!”
“Titik!!!!!”
“Wah kak Yani segitunya.”
“Udah, mending kamu mandi, entar keburu maghrib. Sholatnya jangan sampai telat.”
“Baiklah…”

Sambil beranjak keluar dari kamar Yani, Fana masih diliputi rasa penasaran. Kak Yani kok berubah ya? Biasanya kalau sore begini, capek dari kampus, dia pasti tidur. Shalat aja dikerjakan kalau sempat, itupun kalau diingatkan sama mama. Sekarang...?? auk ah elap.

*   *   *   *   *

“Fan… kamu nggak merasa aneh dnengan tatapan Zul terhadapmu?” Cerocos Rosa suatu pagi di ruang kelas yang masih lengang.
“Maksudnya?” Tanya Fana.
“Sepertinya dia punya hati deh terhadapmu.” Jawab Rosa sambil menyikut Fana.
“Ya jelas dong punya hati, kalau tidak punya, emangnya hantu?”
“Ah, kau Fan, orang seriuas nih. Maksudku sepertinya dia tuh jatuh cintrong sama kamu.”
“Hi… hi… hi… anak baru itu?”
Fana terpingkal-pingkal mendengar penjelasan Rosa.
“Dia kan anak alim, dari pesantren lagi.” Lanjutnya.
“Emangnya kau pikir anak alim nggak bisa jatuh cinta Fan?”
Tanpa memperdulikan kata-kata Rosa, Fana berujar,
“Nggak kebayang deh, gimana pacaran sama dia, nggak kuku aku.”
“Hus, ada-ada aja kau, tapi kalau benar, gimana?” Tanya Rosa lagi.
“Benar bagaimana maksudmu?”
“Ya, kalau benar Zul suka padamu?”
Fana terdiam sejenak.
“Mmmm…. gimana ya?”
“Tuh, kan, kamu juga suka dia?”
Muka Fana merona merah jambu, dia tersenyum malu.
“Jujur aja non, Zul memang cakep kok.” Sambil menjawil pinggang Fana, Rosa berlari menjauh.
Fana pura-pura marah dan mengejar.
Tapi dalam hati berbunga.

*   *   *   *   *

Sore itu, cahaya mentari begitu indah.
Di teras depan, Yani sedang tadarusan ba’da ashar, kebiasaan baru yang dilakukannya sejak pakaiannya berubah. Fana datang mendekat, duduk di samping kakaknya.
Yani menghentikan bacaannya, ditaruhnya mushaf mini itu di saku bajunya.
“Ada apa, Fan?”
Fana hanya terdian dan memberengut.
“Kamu ribut di sekolah?”
Fana menggeleng.
“Dimarahi ibu guru?”
“Dapat pe-er sulit?”
“Dijahili teman?”
Semua dijawab dengan gelengan.
“Ayo dong Fan, jangan buat kak Yani penasaran begini.”
Fana tersenyum.
“Baik, Fana akan cerita, tapi ada syaratnya, kak Yani sepakat?”
“iya deh, tapi syaratnya, kak Yani sepakat?” Ujar Yani penasaran
“Kak Yani harus menjawab pertanyaan Fana.”
“Pertanyaan apa sih?” Yani makin penasaran.
Fana tertawa penuh kemenangan.
“Kenapa sih Kak Yani tiba-tiba berpakaian seperti ini, kuno banget, mending seperti dulu, pakai jilbab tapi tetap trendy.”
Yani tersenyum mendengar kata-kata adiknya.
“Ayo dong kak, jangan cuma tersenyum.” Desak Fana tak sabaran.
“Baiklah adikku yang manis.”
“Kak Yani berpakaian kayak gini, karena yang namanya pakai jilbab itu, yang namanya menutup aurat itu, ya kayak gini.”
Fana melongo mendengar jawaban kakaknya.
“Makanya Fana seharusnya seperti ini juga jilbabnya, kan sudah dewasa, jangan pakai jilbab bongkar pasang seperti sekarang, ke sekolah pakai jilbab, tapi selain itu, tak pakai lagi.”
Yani tersenyum sambil mengacak rambut adiknya lembut.
“Tapi Fana belum bisa kak.”
“Loh, kenapa?”
“Belum dapat hidayah, mungkin.” Jawab Fana sekenanya.
“Fana.... Fana... hidayah tuh sudah diturunkan Allah, manusia saja yang tak mau menerimanya, justru memakai jilbab berarti membuka pintu bagi masuknya hidayah itu.”
Mereka terdiam beberapa saat.
“Nah, kakak sudah cerita, sekarang gantian Fana yang cerita, ada apa?” Tanya Yani.
“Em... gimana ya?” Ujar Fana tersenyum malu-malu.
“Ayo dong, kok sama kakak sendiri, malu?” Lagian kita kan sudah sepakat tadi.”
Setelah mikir-mikir sejenak, Fana berkata,
“Baiklah, Fana akan cerita sama kak Yani, tapi jangan ketawa ya?”
“Iya deh, Kakak janji.” Jawab Yani sambil menepuk pundak adiknya.
“Gini kak, beberapa hari yang lalu, di kelas Fana ada siswa baru...”
“Terus, ada apa dengan siswa baru itu? Ngegangguin Fana?”
“Nggak begitu Kak, justru dia, namanya Zul, kirim salam ke Fana lewat Rosa, katanya dia mau jadi pacar Fana. Orangnya sih gagah, cuma Fana masih ragu.”
“Kenapa harus ragu, Fan?”
Fana tersenyum kegirangan mendengar kalimat kakanya, dia merasa dapat dukungan.
“Jadi kak Yani sepakat kalau aku menerima cintanya?”
“Jangan senang dulu non, kakak menganjurkan agar jangan ragu menolaknya.”
“Ah... kak Yani.... tapi kenapa?”
“Fana, dalam Islam, pacaran itu nggak ada.”
“Tapi kan dalam Islam kita disuruh saling kenal mengenal, dengan pacaran, kenal-mengenalnya akan lebih mendalam, Kak.”
Yani tersenyum mendengar kata-kata adiknya.
“Apa memang benar demikian? Apa tidak sebaliknya? Justru dengan pacaran, kalian tidak akan mengenal dengan baik karena kalian pasti berusaha saling menjaga image di depan pacar masing-masing.”
Menghela nafas sejenak.
“Dan yang paling penting lagi, pacaran th potensi mendekati zinanya sangat besar.”
“Kalau yang itu sih kak Yani tidak perlu khawatir, Zul itu anaknya alim kak, dari pesantren lagi.”
“Fana.. Fana... emangnya kalau sudah alim dan dari pesantren, maka sudah boleh nyerempet-nyerempet dosa?”
“Nggak ada jaminannya, kan?”
Fana cemberut mendengar argumen kakaknya.
“Ah, sudah deh, bicara dengan kak Yani makin membuat Fana pusing.”
Fana meninggalkan kakaknya yang masih duduk termangu di teras. Dalam hati, Yani berdoa, Ya Allah berilah petunjuk-Mu pada adikku.

*   *   *   *   *

Sepulang dari sekolah, di atas meja belajarnya, Fana menemukan sebuah kado mungil bersampl warna hijau muda. Tanpa banyak tanya, dibukanya sampl kado tersebut dan didapatinya sebuah buku berwarna merah dengan judul Kenapa Harus Pacaran?, yang ditulis oleh Rabiah Al Adawiyyah. Di halaman pertama tertulis sebah pesan singkat.
Adikku Nur Inayah Saffana
Semoga hadian ini mampu membantumu mengatasi masalah yang kita bicarakan kemarin.
Di bagian bawah tertera nama Irfayani Hasanah dengan catatan kecil, “maaf, kakak harus praktik lapang hari ini”.
Diperhatikannya kembali buku kecil itu, di covernya tertera sebuah judul nyentrik dan menyentil hatinya siang itu, Kenapa Harus Pacaran? Ketika membaca judul itu, dia langsung teringat kejadian tadi pagi di sekolah.
“Hai Fana, kamu dapat surat nih, dari.....”
Rosa menegurnya pas istirahat pertama.
“Dari siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan si Zul.”
“Mana suratnya?”
Sambil menyerahkan surat bersampul merah jambu tersebut.
“Tampaknya dia tuh ngebet banget deh sama kamu, Fana.”
Fana menerima surat itu dan langsung dimasukkannya ke dalam tas.
“Nggak dibaca sekarang?”
“Nanti aku baca di rumah.”
“Terserah kaulah, tapi Zul berpesan, dia ingin suratnya dibalas pas hari valentine nanti.”
Fana diam saja mendengar kata-kata Rosa.

Sore itu, perlahan dikeluarkannya surat dari Zul dan diletakkannya di samping buku pemberian kakaknya.
Surat itu tidak dibukanya.
Aku sudah bisa menebak isinya, katanya dalam hati.
Diraihnya buku kecil tulisan Rabiah Al Adawiyyah tersebut dan dibacanya lembar demi lembar.

*   *   *   *   *

Hari ini, 14 februari 2005, surat balasan dan kado valentine untuk Zul sudah disiapkannya baik-baik, nanti dia akan menitipkannya lewat Rosa. Pada jam istirahat kedua, baru kado itu diserahkannya kepada Rosa untuk disampaikan ke Zul.
“Wah, dengan hadiah nih, Fana?”
Fana hanya tersenyum.
“Zul akan gembira banget melihat hadiah valentine darimu.”
“Apakah ini berarti kamu menerimanya, Fani?”
“Aku memang yakin bahwa kalian adalah pasangan yang serasi, jadiannya pas pada hari valentine lagi, benar-benar romantis.”
Kembali Fana hanya tersenyum mendengar celoteh Rosa, sahabatnya.

Ketika jam pelajaran usai, Fana membereska peralatan belajarnya samil bersenandung kecil. Tiba-tiba,
“Apa maksudmu dengan ini semu, Nur Inayah Saffana!!!?”
Suara Zul menggelegar siang itu.
Untung siswa lain sudah pada pulang, termasuk Rosa.
“Suratku tidak kau baca, bahan kau kirim kembali. Eh. Kau kirim lagi buku sampah ini padaku!!!”
Zul membanting buku Jangan Katakan Cinta tulisan Lukman Haqqani di meja Fana.
Fana hanya diam, diambilnya buku itu dan ditatapnya Zul dengan tatapan mata tajam.
Zul semakin emosi dibuatnya.
“Kalau memang kau tidak mau menjadi pacarku, jawab saja tidak, tidak perlu kau jadi sok alim begitu.”
Fana angkat bicara,
“Jaga ucapanmu Zulkifli!! Aku tidak menyangka kau seperti itu!”
Dengan tetap menatap tajam ke arah Zul.
“Aku melakukan ini karena aku pikir kau dari pesantren dan lebih tahu tentang syariat dari aku, tapi nyatanya!!???”
‘Kau tidak ubahnya dengan cowok lain yang tidak bertanggungjawab, memacari anak gadis orang sampai bosan, lalu ditinggalkan. Kalau memang berani, kenapa tidak menikah saja?”
Zul hanya ternganga dan tak mampu berkata apa-apa, dia tidak menyangka Fana akan seberani itu bicara terhadapnya.
“Aku tahu, kau sebenarnya mengerti, Zulkifli, bahwa pacaran itu dilarang, tapi kau tetap melakukannya juga, lalu apa bedanya kau dengan yang lain!!?? Aku menyesal pernah mengenalmu!!!”
“Assalamu alaikum!”
Fana meraih tasnya dan meninggalkan Zul sendiri di dalam kelas.

Rumah Mungilku, Perpustakaanku

muhammad kasman | 6:54 AM | 0 komentar

[26.10.2014] Beberapa waktu yang lalu, ibu-ibu di kompleks perumahan tempat tinggal kami di kawasan Mallengkeri, Makassar, menggelar arisan bulanan di rumah sederhana –untuk tidak mengatakan sempit, kami.

Karena keterbatasan ruang, lemari buku yang memuat buku dengan berbagai tema yang keluarga kami punyai, ditempatkan di ruang tamu. Lemari buku memenuhi separuh dinding.

Karena arisan belum dimulai, mereka menikmati cemilan yang tersedia, dan tentu saja sambil ngobrol dengan berbagai tema. Dari sekian banyan tema yang mereka obrolkan, yang menarik perhatianku adalah komentar-komentar mereka tentang koleksi buku kami.

“Suaminya kerja di mana ya? Lihat bukunya banyak sekali.” Bisik seorang ibu.
“Kabarnya sih di Inspektorat.” Jawab ibu yang lain.
“Tapi kok bukunya banyak sekali? Kerjaan orang Inspektorat kan tidak terkait dengan buku?” Kembali ibu yang tadi bertanya.
“Ah, mungkin di perpustakaan daerah.” Celetuk yang lain lagi.
Masih banyak jawaban yang berseliweran.

Awalnya, ketika mendengar komentar mereka, aku sempat tersinggung, sebab mereka mengaitkan antara jumlah koleksi buku yang kami punya dengan pekerjaanku yang seharusnya di perpustakaan daerah. Aku merasa mereka mencurigaiku mengutil buku dari tempat kerja.

Namun aku sadar, mereka tentulah heran, sebab berbeda dengan keluarga kebanyakan, ketika ruang tamu mereka dipenuhi dengan perbak-pernik hiasan serta meubelir yang kinclong, ruang tamu kami sesak dengan lemari buku.

Komentar-komentar mereka membuatku tercenung, bahkan merasa kasihan. Reaksi mereka begitu melihat kehadiran buku-buku tidak seperti harapanku. Betapa, ibu-ibu yang sebagian besar merupakan dari golongan terpelajar, tidak begitu familiar dengan kehadiran buku.

Aku kemudian merenung, sepertinya ada yang keliru dengan masyarakat kita. Makassar yang menggembar-gemborkan untuk menjadi kota dunia, dihuni oleh masyarakat yang terasing dari buku –artefak tradisi literasi yang paling nyata.

Membangun kecintaan pada buku selalu menjadi impianku sejak dulu. Aku membayangkan ketika aku berkunjung ke rumah tetangga atau kerabat, kita tidak akan membincang tentang model kursi tamu, harga taplak meja dan gorden, atau yang lain.

Kita akan berbincang tentang judul buku terbaru yang tersaji di lemari buku sebagai artefak utama di ruang tamu setiap keluarga. Kita tidak akan menghabiskan waktu ngerumpi tentang prosesi pernikahan Raffi Ahmad, atau trend terbaru dari Syaharini.

Kita akan menghabiskan waktu bertamu dengan membaca puisi bersama, membincang novel-novel menawan atau menyusun rencana menerbitkan karya kolaborasi melalui self publishing. Bukankah itu indah?

Aku jadi teringat dengan Si Brewok –Karl Marx, bila membayangkan situasi yang demikian.

Selamatkan Anakmu Dari Kekerasan Simbolik

muhammad kasman | 9:00 AM | 0 komentar
[23.10.2014] Anda mungkin pernah menonton video tentang MOP Papua yang diproduksi di ujung terjauh Indonesia, Kota Merauke, Papua. Salah satu seri video dengan motto “Epen kah? Cupen toh!” ini menceritakan tentang pelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas.

Dalam sekuel tersebut digambarkan seorang guru perempuan menuliskan kata ‘bibi’ di papan tulis dan meminta para siswa untuk menyusun sebuah kalimat dengan menggunakan kata ‘bibi’. Murid-murid dengan berbagai latar belakang suku mulai menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebutkan kalimat yang mereka susu.

Namun begitu tiba giliran si Dody, suasana lucu yang tercipta sejak awal video menyajikan kejutan yang cerdik. Dengan muka kebingungan, si Dody celingak-celinguk tak mampu menemukan kalimat yang pas dan didalamnya terdapat kata ‘bibi’ sebagaimana instruksi ibu guru.

Video itu bahkan memperlihatkan bagaimana si Dody harus bertanya kepada si Paijo yang duduk di sampingnya, “Bibi itu apa?”. Namun setelah didesak, dengan terpaksa si Dody berteriak lantang, “Ikan poro bibi”. Sontak jawaban Dody membuat seisi kelas terpingkal-pingkal.

Inilah sebuah fragmen yang dalam pemikiran sosiolog Prancis Pierre Bourdieu disebutnya kekerasan simbolik dalam dunia pendidikan. Sebuah konsep yang menjelaskan mekanisme yang digunakan kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” kebiasaan, gaya hidup, budaya, dan bahkan ideologinya, kepada kelompok kelas bawah yang mereka subordinasi.

Rerangkai budaya tersebut yang oleh Bourdieu dilabelinya dengan istilah habitus menjadi alat dominasi yang begitu lembut dan melenakan bagi kelompok yang terdominasi.

Dalam video ini diperlihatkan bagaimana bahasa sebagai instrumen kebudayaan yang dijajakan dalam proses pendidikan membuat seorang peserta didik dipaksa untuk menerima habitus tertentu, dan harus terasing dari realitasnya sendiri. Dody dituntut untuk membuat kalimat dengan kata yang bukan berasal dari habitus alaminya.

Aku teringat dengan video si Dody ini ketika melihat pekerjaan rumah yang dibawa pulang oleh anakku yang pertama, Qonitah Wafiyah Tenri Bilang, kemarin. Cinta –demikian kami menyapa Qonitah, mendapatkan tugas untuk menuliskan kalimat “Papi suka minum kopi”, sebanyak 13 kali di buku tulisnya.

Memang secara selintas, kalimat ini tidak mengandung masalah sama sekali, ini adalah kalimat biasa yang tak punya tendensi, sekedar untuk melatih kemampuan menulis seorang peserta didik. Tapi justru disitulah letak pemicu kecurigaanku, bahwa ini sebentuk kekerasan.

Iseng aku bertanya kepadanya, “Cinta, apa itu papi, Nak?”
Dengan santai dia menjawab, “Tidak tahu, Tetta.”
Jawabannya membuatku masygul, seorang anak yang lugu, dicekoki dengan habitus kelas tertentu yang tidak dia pahami.

Kenapa harus ‘papi’? Pilihan kata sapaan untuk orang tua lelaki itu mengusikku. Sapaan yang sangat kentara mewakili lapis sosial tertentu, dan secara tegas berbeda dengan ‘tetta’ atau ‘etta’, sapaan yang digunakannya kepadaku, sebuah sapaan yang umum digunakan pada masyarakat Bugis-Makassar.

Atau kenapa bukan ‘ayah’ sapaan bahasa Indonesia untuk orang tua lelaki yang lebih egaliter, sebagaimana aku menyapa bapakku, dan dia juga ikut-ikutan menyapa kakeknya dengan sapaan itu. Sekali lagi, kenapa harus ‘papi’? Dan  Bourdieu-lah yang memberi jawaban atas gelisahku: itu habitus yang dipaksakan!

Bourdieu dengan remeh memandang sekolah tak lebih dari sekedar sebuah alat untuk mempertahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah menjadi wadah bagi proses reproduksi budaya (cultural reproduction) yang begitu koersif, upaya melanggengkan ketidaksetaraan ekonomi antargenerasi, dan diterimanya kondisi itu sebagai sebuah habitus alami.

Habitus kelas dominan mengukuhkan dominasinya melalui hidden curriculum –sebuah istilah ciamik dari Ivan Illich. Sehingga siswa dari beragam strata dan lapisan masyarakat akan menerima ketimpangan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya begitu.

Dalam kasus si Cinta, stratifikasi sosial dilanggengkan dengan mengukuhkan posisi dominan kelas sosial pengguna sapaan papi dibanding kelas sosial pengguna sapaan tetta, ayah, atau mungkin ambe’ dan ambo’. Maka waspadalah para orang tua, jangan biarkan anakmu menjadi korban tindak kekerasan simbolik. Disinilah peran kita dituntut untuk melakukan counter-hegemoni dengan cara yang koersif pula.

Sambil membantu Cinta membetulkan model huruf yang dia tuliskan, aku mencoba menjelaskan padanya bahwa papi tak ada bedanya dengan semua sapaan lain pada orang tua lelaki. Papi tidak lebih baik dari etta, tetta, ayah, ambo’ atau ambe’ untuk menyapa bapakmu ini.


Semoga dia ingat menggunakannya nanti sebagaimana kebiasannya selama ini, Cinta akan menyapaku tetta bila berkumpul dengan keluarga dari Takalar, etta bila di tengah keluarga dari Bone, dan dia memanggilku abi bila di tengah-tengah alumni HMI. Bahkan terkadang, dalam sehari, Cinta bisa menyapaku dengan beragam panggilan, kecuali papi yang ternyata baru dia ketahui berarti orang tua laki-laki, juga.

Dari Kucing Schrodinger Ke Kebingungan, hahahah....

muhammad kasman | 2:46 PM | 0 komentar
[20.10.2014] Pernah mendengar “kucing Schrodinger”? Seekor kucing yang ditempatkan dalam sebuah kotak baja bersama sebuah alat pencacah Geiger dan  zat radioaktif dalam jumlah yang kecil ---potongan yang begitu kecil, namun dengan 50% kemungkinan bahwa salah satu atomnya akan membusuk dalam waktu satu jam.

Begitu salah satu atom membusuk dan melepaskan radiasi, alat pencacah Geiger akan mendeteksinya, lalu memicu mekanisme pegas yang menyebabkan sebuah palu menghantam tabung kecil yang mengandung asam hidrosianik, akhirnya gas hidrosianik itu akan menyebar dalam kotak baja dan mengakibatkan kucing akan mati.

Percobaan yang pertama kali dirancang oleh fisikawan Austria, Erwin Schrodinger –yang kemudian dikenal sebagai pelopor mekanika kuantum-- pada tahun 1935 ini menunjukkan bahwa kondisi atom zat radioaktif yang berbagi tempat pada sebuah kotak baja berada dalam ‘superposisi’ dari dua keadaan yang mungkin: membusuk dan tidak membusuk, begitupun dengan kucing: hidup dan mati.

Kondisi superposisi yang dialami oleh atom dan kucing tersebut akan terus menjadi misteri yang belum terpecahkan, selama sebuah pengamatan tidak dilakukan. Jadi, kesimpulan tentang apa yang terjadi pada kucing Schrodinger, tergantung pada keterlibatan seorang pengamat atau peneliti.

Mengenai keterlibatan pengamat atau peneliti dalam eksperimen kucing Schrodinger, menimbulkan soal tersendiri. Dan memang, dilema kucing Schrodinger ini sengaja diciptakan untuk menunjukkan secara gamblang betapa absurdnya pemahaman ortodoks mengenai dunia kuatum, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut Newtonian secara kukuh.

Kondisi ‘superposisi’ kucing Schrodinger yang merupakan fenomena kuantum akan sulit diukur secara pasti sebagaimana yang selama ini didaku oleh fisikawan Newtonian, bahwa setiap benda (struktur) selalu terdiri dari bagian-bagian atau partikel dasar yang masing-masing bersifat independen dan terisolasi dalam ruang dan waktu yang bersifat absolut yang saling berhubungan melalui aksi dan reaksi.

Seperti ditegaskan oleh salah seorang penyokong teori kuantum, Werner Heisenberg (1927). Haisenberg mengatakan bahwa posisi dan momentum partikel-partikel sub-atomik tidak dapat diukur secara tepat pada waktu yang sama. Ini karena interaksi dan gerak yang terjadi antara atom-atom dan partikel sub-atomik pada dasarnya tidak menentu.

Meskipun teori kuantum juga menyisakan banyak tanya, tapi kehadirannya menyadarkan kita bahwa semesta bukanlah hal yang dapat dibagi-bagi menjadi atom-atom yang independen dan utuh dalam dirinya, dan semesta bukanlah sekedar sekumpulan atom-atom independen, melainkan sebuah jejaring interkoneksitas yang bersifat organis, hidup dan utuh, tak bisa dipecah dan dibelah menjadi entitas tunggal dan absolut.

Pergeseran cara pandang secara ontologis ini berimplikasi pada pergeseran secara epistemologis dan aksiologis, bahkan sampai pada pilihan metode penelitian yang dilakukan. Keterlibatan seorang pengamat atau peneliti terhadap dilema kucing Schrodinger tidak tepat bila dihampiri dengan pendekatan penelitian kuantitatif yang selama ini diagung-agungkan kaum positivisme.

Secara epistemologis, mekanika kantum memperlihatkan bahwa realitas bukanlah sebuah mesin raksasa yang bekerja secara mekanistik dan bisa diurai komponen-komponennya untuk mengamati interaksi yang terjadi antar komponennya, realitas bukanlah sebuah struktur kaku, dianya adalah jejaring tanpa simpul yang bisa terurai.

Ini berarti bahwa mengetahui interaksi antar komponen dari realitas, tidak sertamerta membuat kita bisa mengetahui mekanisme yang bekerja dalam kondisi dan situasi apapun. Tapi karena realitas merupakan sebuah proses dimana setiap entitas berinteraksi secara organis dan dinamis, maka kita hanya bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang terus bergerak dan tidak bisa direduksi menjadi simpulan determinan.

Secara aksiologis, kita bisa belajar dari teori kuantum bahwa pertimbangan subyektif, makna simbolik, serta refleksi etis dan estetik pantas mendapat tempat karena setiap entitas teramati selalu hadir bersama kemungkinan atau probabilitas, tergantung dari posisi mana dan dengan cara apa kita mengamatinya, atau yang disebut dimensi fraktal.

Dimensi fraktal membuat obyek amatan selalu dalam suasana dan situasi berbeda, unik, dan khas --sebagaimana dalam eksperimen kucing Schrodinger, sehingga obyektivitas menjadi hal yang mustahil. Yang ada hanyalah rentetan suasana obyek amatan dalam konteks yang selalu bergerak dan berubah secara dinamis. Maka nilai pengetahuan tidaklah bersifat obyektif, melainkan selalu mengedepankan kontekstualitas.

Secara teknis, pergeseran paradigmatik pada tataran ontologis, epistemologis dan aksiologis mendorong lahirnya gugatan terhadap metode penelitian kuantitatif yang berangkat dari paradigma sains Newtonian –atau lebih dikenal sebagai penganut sains positivisme, yang telah dikritik oleh para pengusung fisika kuantum ---mereka yang mendorong arus postpositivisme.

Namun sayang sekali, suasana feodalistik di beberapa kampus dalam dunia pendidikan tinggi kita masih mencekoki kesadaran sebagian besar penjaga gerbang kebenaran saintifik yang bersifat positivis. Hal ini berimplikasi pada tidak tersedianya ruang yang lapang bagi tumbuh dan berkembangnya paradigma baru keilmuan. Pendekatan kuantitatif menjadi rezim kebenaran yang tak membolehkan munculnya interupsi, yang pada gilirannya memasung kreativitas dan membungkam mereka yang bersuara berbeda.

nb: ini bukan tulisan ilmiah, melainkan sekedar curhat, hehehehe..... 
 
Copyright © 2013 | Muhammad Kasman | All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji