Laila Oh Laila

Muhammad Kasman | 4:30 AM | 1komentar
[13.07.2014] Makin hari, aku makin merasa bahwa Laila kekasihku bukanlah perempuan biasa. Dia adalah penjelmaan malam, bukankah malam merupakan kekasih abadi yang akan menyelimuti siapapun yang masuk dalam peraduan bersamanya?

Lihat bulu mata Lailaku yang lentik, lesung pipinya yang menarik, serta bibirnya yang terukir indah adalah anugerah alam yang membuatku menjadi demikian tenang berada dalam peluknya.

Bersama perempuan Laila, aku berani untuk mengakui bahwa lelaki tidaklah haram berairmata. Dalam remang dan temaram senyumnya, dia mampu menyamarkan sedihku yang berkarat. Dalam gelap rambutnya yang pekat dia mampu menyimpan wajah senduku dengan rapat.

Lailaku, sebagaimana malam, memiliki hati seluas alam dan jiwa sehamparan semesta. Dia mampu mendengar dengan tabah luapan keluh dan limpah ruah kesahku.

Tentu kalian meragu dengan begitu istimewanya Laila di mataku, tapi bukankah seorang kekasih memang begitu berarti bagi seorang pecinta? Begitupun aku memperlakukan Lailaku, aku merasa Tuhan telah begitu sempurna menciptakan Laila, bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan kesayangan. Siapapun yang ingin dekat dengan Tuhan, haruslah merapat ke dada Laila, dada kekasihku.

Memang pernah juga tebersit lintas ragu dalam hatiku yang rawan terhadapnya, tapi dia menjawab keraguanku dengan gumamnya, “Keraguan yang mendera hatimu memang hal yang lumrah hai pencari, tapi seharusnya was-was seperti ini tidaklah pantas muncul dalam sanubari mereka yang mencintai kalam Tuhan.”

Aku terperangah mendengar tuturnya dengan suara yang bergetar, “Wahyu suci, bahkan diturunkan oleh Allah melalui rahim Laila yang mulia, kekasihmu ini.” Lanjutnya.

“Jangan mengada-ada seperti itu kekasihku. Cukup! Aku percaya padamu, tapi jangan sampai kau berdusta atas nama Tuhan untuk meyakinkanku.” Raguku menggantung di udara.

“Tidak!!” Seru Lailaku, “Kebenaran ini harus kau ketahui, aku adalah Laila Al Qadry. Kau pernah mendengarnya? Gelar yang disematkan oleh Tuhan di dada perempuan mulia kekasihmu ini, seumpama malam yang lebih mulia dari seluruh malam.”

Laila Al Qadry perempuanku, ya demikianlah aku memanggilnya kini, bukan hanya menjadi ibu bagi kalam suci, tapi dia juga menjadi ibu bagi kelahiran para malaikat di bumi ini. Inilah yang membuat aku menjadikannya begitu istimewa, sekaligus khawatir dengan kecemburuan yang menggunung.

Pecinta mana yang tak cemburu jika kekasihnya senantiasa dinanti dan dipuja oleh lelaki lain? Tuhanpun senantiasa melafadzkan nama Laila kekasihku dengan begitu mesra.

Bahkan Laila selalu disebutnya lebih baik dari Nahar saudaranya, “Bukankah Laila senantiasa mendahului Nahar?”
Ungkap Tuhan padaku di suatu malam pada bulan ramadhan.
Membuatku nelangsa.

“Jangan bersedih begitu kekasihku, tidak cukupkah anugerah Tuhan dengan kerelaannya untuk berbagi kebahagiaan denganmu?” Rayu Lailaku dengan suara yang mendayu, selembut angin malam yang mendesir pelan di rimbun pokok bambu.

“Kebahagiaan apa!? Ini adalah siksa, Dia membakarku dengan api cemburu! Apa Dia tidak faham betapa dalam cintaku padamu!?” Jiwaku menggelora.

“Sssttttt….. jangan berisik cintaku, kau akan merusak kesunyian dan mengoyak kesenyapan yang menjadi hakekatku…”
“Tapi aku tidak bisa menerima perlakuan ini!” Sanggahku.
“Fahamilah, aku bukan kekasihmu abadi, aku bukanlah seorang pecinta, aku hanya hadir untuk membuktikan cinta Tuhan padamu.”

“Apa!!? Tuhan mencintaiku? Lalu kenapa ingin merampas dirimu dariku kekasihku?” Aku makin tidak mengerti.
Laila terdiam dalam.
Hanya desah nafasnya yang terdengar samar.

“Sadarlah, Laila kekasihmu ini hadir dengan kesunyian yang senyap hanya untuk menujukkan bahwa Tuhan tidak penah meninggalkan dan membencimu.”

Aku hanya terdiam mendengar Laila Al Qadry berceloteh, “Laila hanyalah washilah, kekasihmu ini cuma teman seperjalanan, bukan tempat berhenti, pun bukan tempat istirah dan lena. Hadirku yang demikian anggun dengan selimut gelap kelam ini adalah satu ayat bagimu agar kau mampu mencandra bahwa Tuhan adalah cahaya yang demikian benderang dan cerlang.”
Aku kian tergugu menyimak tuturnya.

“Hai jangan terdiam begitu dong…” Laila menguncang-guncangkan bahuku.

“Kau mau menegakkan shalat bersamaku malam ini kan? Ayo, kau harus bersuci, tak pantas seorang pecinta menemui kekasihnya dalam keadaan kotor.”

Laila menuntunku berdiri, aku berjalan terseok menuju pancuran di belakang rumah, langit cerah, bintang berkelip indah, namun gerimis menitis menerpa wajah.

Aku berwudhu perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara daras kalam suci melantunkan ayat terakhir ath thur, “wa mina llaili fasabbihhu wa idbaara nnujuum… Dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang.”

Kupungkas wudhu dalam gemetar, rasa bergetar, jiwa terasa lempang dan lapang, aku tersungkur bersujud. Tak sadar bibirku melafadz terbata, “Subhana lladzii asraa bi’abdihii laila…..

Siapa Sebenarnya Yang Gila

Muhammad Kasman | 5:30 AM | 4komentar
[04.07.2014] Syahdan, di sebuah kampung di kaki gunung Bawakaraeng, kampung tempat di mana guru spiritual La Capila yang bernama I Mapesona bermukim, warga sekitar mencap I Mapesona sebagai orang yang kurang waras.

Soalnya sederhana, I Mapesona yang hidup sendiri sejak ditinggal mati oleh istrinya dua tahun lalu itu punya kebiasaan aneh. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, I Mapesona menganyam tikar dari daun pandan. Namun tikar pandan yang telah dia anyam, lebih banyak yang dia urai kembali daripada yang dia jual ke pasar.

Dia hanya akan menjual tikar pandan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, selebihnya dia urai kembali untuk dia anyam lagi di hari berikutnya. Tak ada yang tahu apa alasan kenapa I Mapesona melakukan tindakan yang bagi warga sekitar merupakan tindakan bodoh tersebut.

Bahkan karena tindakannya tersebut, I Mapesona kemudian dikenal sebagai Tukang Tikar Gila di kampung tersebut. Dia menjadi bahan olok-olok anak-anak, para remaja, bahkan orang tua pun tak jarang menertawai tingkah I Mapesona.

Namun anehnya, I Mapesona begitu rajin sholat berjamaah di masjid jami’ kampung tersebut, bahkan terkadang dia juga mengumandangkan adzan apabila imam masjid terlambat, atau bila La Capila tidak berkunjung. Tak jarang, mereka hanya berjamaah bertiga, imam masjid, I Mapesona, dan La Capila.

Apabila anak-anak kampung melihat I Mapesona berjalan menuju pasar sambil membawa tikar hasil anyamannya untuk dia jual, tak jarang dia diteriaki dengan panggilan-panggilan yang menyakitkan. “Oooo Pongoro’.....” atau “Minggir, orang gila mau lewat...” merupakan teriakan yang seringkali diungkapkan anak-anak kepada I Mapesona.

Sampai pada suatu pagi yang cerah, I Mapesona membawa tikarnya ke pasar untuk dia jual. Tak sampai waktu siang, tikarnya telah terjual habis, sementara pasar masih lumayan ramai. Begitu urusannya di pasar selesai, I Mapesona berjalan dengan santai tanpa menghiraukan olok-olok yang tak pernah reda.

Rupanya, I Mapesona berjalan menuju masjid jami’ yang terletak tak jauh dari pasar. Begitu sampai, I Mapesona berwudhu, lalu melangkah mantap menuju mimbar dan meraih mikrophon lalu melantunkan adzan, sementara waktu masih sekira pukul sembilan lewat.

La Capila yang sedang melaksanakan sholat dhuha juga kaget mendengar lantunan adzan sepagi itu, tapi belum sempat dia beraksi, warga yang dari pasar sudah berkerumun di halaman masjid sambil berteriak-teriak dengan beringas.

“Oiii I Mapesona, pongoro’, kenapako adzan jam segini? Dasar gila!”, ada juga, “Mana Pak Desa, ini I Mapesona dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa.” Dan berbagai teriakan sejenis yang tidak berhenti bersahut-sahutan sampai I Mapesona menyelesaikan adzannya.

Begitu I Mapesona beranjak menuju pintu masjid, seorang warga mengusulkan agar I Mapesona di tangkap saja dan diamankan di kantor desa agar tidak membuat ulah lagi. Suasana memanas, beberapa pemuda bergerak ingin meringkus I Mapesona.

Untung La Capila cepat datang menengahi dan meminta pengertian warga atas tingkah polah I Mapesona. Namun I Mapesona, seperti tak terjadi apa-apa, malah menatap tajam kepada semua warga yang berkumpul di halaman masjid, sepertinya dia akan menyampaikan sesuatu.

 “Siapa sebenarnya yang gila, saya atau kalian? Ketika saya adzan di waktu dhuhur, tak ada satupun yang datang ke masjid. Tapi begitu saya adzan di waktu yang salah, kalian berduyun-duyun ke masjid. Jadi siapa sebenarnya yang lebih gila?” Seru I Mapesona lirih.

“Kalian lebih tertarik memenuhi panggilan adzan yang keliru daripada panggilan adzan yang tepat dan mengajak kalian beribadah kepada Allah, lalu kalian merasa diri lebih waras dari saya dan pantas menyebut saya gila, pongoro’, dan kurang waras?”

Seruan I Mapesona membuat warga yang berkerumun tertunduk malu dengan muka yang kuyu. Bahkan beberapa orang tua berbisik, bahwa apa yang dikemukakan oleh I Mapesona ada benarnya. Tak lama, kerumunan pun membubarkan diri.

Tuhan Memilih Untuk Tetap Menanti

Muhammad Kasman | 9:13 AM | 0 komentar

[01.07.2014] Seikat doa teronggok di kaki sepi

Mulut mulut sibuk saling mencaci
Hati hati diliputi iri dengki

Tuhan memilih untuk menanti

Oooo, doa doa yang hampir basi
Penuh gigil dan pucat pasi
Menanti nasib dipanjat-pohonkan
Meniti tepi malam dengan keagungan

Sementara para pengkhotbah
Enggan menengadah
Lebih memilih jadi pendosa 
daripada seorang pendoa

Seikat doa teronggok tanpa arti
Mulut mulut masih mencaci
Hati hati terus mendengki

Tuhan memilih untuk tetap menanti

Kunang-Kunang Bulan Juni

Muhammad Kasman | 5:30 PM | 0 komentar

[20.06.2014] Aku mencintaimu, masih mencintaimu, dan akan terus berusaha mencintaimu. Aku ungkapkan ini sebagai ungkapan rasa bahagia atas hadirmu dalam hidupku. Mungkin ada sebagian orang akan mencibir bahwa ini ungkapan basi, tapi apa salah seorang suami mengungkapkan perasaannya pada istrinya? Namun di atas semua itu, lebih pantas kita bersyukur kepadaNya, Dia yang telah memberi kita segalanya, terutama hidup, rasa cinta dan kebersamaan.

Sir Muhammad Iqbal pernah mengatakan, “Aku ragu ada dan tiadaku. Tapi cinta mengumumkan aku ada!” Ungkapan merupakan sebuah pengakuan akan betapa kuat, betapa hebat, dan betapa luar biasanya cinta. Namun lagi-lagi betapa luar biasanya Dia, Dia yang telah menghadirkanmu 33 tahun yang lalu (20 Juni 1981), untukku, agar kau bisa mencintaiku, aku bisa menerima cintamu, dan kita bersama meraih cintaNya.

Jujur, hidup menurutku tak berwarna, tapi hadirmu membuat hidup menjadi berwarna-warni. Cintamu ibarat kesumba ajaib, menyepuh hidupku menjadi merah, biru, kuning, bahkan ungu dan jingga. Lahirmu adalah anugerah, meski kau tak seterang mentari, dan selembut rembulan. Kau adalah kunang-kunang dengan kerlip mungil yang terus berpijar, mengukir nuansa di rembang petang, selepas hujan.

Diriku adalah temaram cahaya yang senantiasa merindu kerlap kunang-kunang. Pun aku bentangan rindu yang butuh suar untuk meniti jalan pulang. Hadirmu menyuar asa yang melambung, memberi arah pada perjalanan menempuh hidup ini. Di hari ulang tahunmu yang ke-33 ini, kunang-kunangku, aku menulis ini untukmu. Entah ini puisi atau bukan, tapi kuharap engkau tahu, hadirmu sangat berarti buatku. Selamat Ulang Tahun, Nona.

Tak ada yang lebih indah di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, dihalaunya sunyi-sepi
dan dihadirkannya harmoni

Tak ada yang lebih tabah di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, tetap tekun merajut asa
merenda cita dan cinta

Tak ada yang lebih arif di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, tak lelah mengeja rasa

memilih suka, memilah duka

Kepemimpinan Yang Memberdayakan

Muhammad Kasman | 8:30 AM | 0 komentar
[07.04.2014] “Kepemimpinan bukanlah soal kekuasaan. Kepemimpinan adalah soal memberikan kekuasaan kepada orang-orang di bawah Anda.”
--John C. Maxwell

Berbicara kepemimpinan, berarti berbicara organisasi. Mustahil membahas kepemimpinan sebagai sebuat sistem tanpa melibatkan banyak orang di dalamnya, sebab kepemipinan tidak hanya terkait dengan satu orang, melainkan hubungan antara banyak orang. Kepemimpinan terkait dengan pola relasi antara atasan dengan bawahan, antara manajer dengan staf, antara seorang pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam sebuah organisasi, terkadang ditemukan bahwa performance yang rendah diakibatkan oleh gaya kepemimpinan yang tidak tepat. Batapa banyak atasan yang mengedepankan logika kekuasaan dalam menjalankan organisasi, akibatnya, organisasi berjalan tersendat, penuh kekakuan, dan tersumbatnya kreativitas, serta tidak maksimalnya pengembangan potensi sumberdaya manusia organisasi.

Oleh karena hal itulah, pemikiran untuk mendorong model kepemimpinan yang memberdayakan, menjadi penting mendapatkan perhatian. Bagaimana seorang pemimpin lebih memberi ruang, bahkan mendorong mereka yan dipimpinnya untuk berbuat yang terbaik bagi organisasi. Seperti kata Becky Brodin, “Pemimpin tidak menggunakan otoritas tetapi memberdayakan orang.

Pemimpin yang memberdayakan adalah pemimpin yang mampu mengeksplorasi secara optimal potensi dirinya sebagai seorang pemimpin yang memiliki komitmen, mengarahkan orang yang dipimpin dengan visi yang jelas, memiliki kemampuan mendengar kebutuhan yang dipimpin dan bisa menjadi suri tauladan (uswah) yang baik. Seorang atasan yang memberdayakan adalah seorang pemimpin yang bercorak heart based leadership.

Kepemimpinan yang memberdayakan membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kesiapan untuk menerima perbedaan dan memiliki kemampuan mentransformasi perbedaan itu menjadi kekayaan dan potensi kemajuan organisasi. Namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana seorang pemimpin menyadarkan orang-orang yang dipimpinnya terkait potensi yang mereka miliki.

Sebagai ilustrasi, kisah ini bisa membantu kita untuk lebih memahami tentang seperti apa kepemimpinan yang memberdayakan tersebut. Syahdan pada suatu hari, terjadilah kebakaran besar pada sebuah rumah, sementara itu, di dalam rumah tersebut terdapat satu orang gemuk yang tidur nyenyak dan tidak menyadari bahaya yang mengancam nyawanya. Beberapa orang telah berusaha meneriaki orang tersebut agar keluar, namun dia tak juga keluar.

Melihat kondisi kritis itu, maka seorang yang dituakan di kampung itu, melompat masuk ke rumah yang terbakar melalui jendela untuk menyelamatkan si gemuk. Ketika orang tersebut membopong tubuh si gemuk keluar melalui jendela yang sama, ternyata jendela tidak cukup lebar untuk menampung tubuh mereka berdua. Karenanya, orang tua itu mencoba mengelarkan si gemuk terlebih dahulu, itupun tak muat di jendela.

Olehnya itu, si orang tua membopong tubuh si gemuk ke arah pintu, ternyata pintupun tidak jauh beda dengan jendela, juga tidak mampu memuat tubuh mereka berdua, pun tubuh si gemuk seorang diri. Karena itu, si orang tua kembali ke dalam, meletakkan tubuh si gemuk kemudian dia berfikir bagaimana cara mengeluarkan si gemuk dari mara bahaya kebakaran yang mengancam nyawanya.

Pembaca sekalian, cerita tersebut sekedar analogi bagi sebuah tipe kepemimpinan. Kepemimpinan yang di gambarkan pada tipologi orang tua di atas adalah pemimpin yang yang hanya mengedepankan kekuasaan seperti yang dijabarkan oleh John C. Maxwell. Dia tipe pemimpin yang lebih peduli pada otoritasnya sebagai pemimpin dan tak punya kepedulian untuk memberdayakan bawahannya.

Seorang pemimpin tidak seharusnya memberikan solusi dan menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi, melainkan mengarahkan para bawahannya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketahuilah bahwa potensi kepemimpinan itu dimiliki oleh semua orang, tugas seorang pemimpin yang baik adalah menyadarkan para bawahannya untuk memimpin diri mereka dan menyelesaikan masalah mereka yang dihadapi.

Dalam kasus di atas, hal yang tepat untuk dilakukan oleh seorang pemimpin yang memberdayakan adalah membangunkan orang gemuk itu dan memberinya pilihan, mau menyelamatan dirinya ataukah tidak. Sebab kepemimpinan adalah soal pilihan pilihan, namun sebahagian kita sedang tidur sehingga tidak menyadarinya. Tugas atasanlah membangunkan para bawahan yang sedang tertidur.

Memiliki bawahan yang telah terbangun dan dapat mengelola dirinya sendiri dengan baik merupakan impinan dari kepemimpinan yang memberdayakan. Karena, bawahan yang sedemikian ini merupakan bawahan yang memiliki kemampuan untuk bekerja dengan inisiatif sendiri tanpa harus dibimbing secara terus-menerus oleh seorang atasan yang senantiasa mengawasi, mereka bekerja berdasarkan pada misi organisasi yang jelas, sehingga mereka dapat dapat menjalankan aktivitas organisasi secara maksimal.

Salah satu hal mendasar yang perlu dibangun dalam kepemimpinan yang memberdayakan adalah komunikasi terbuka antara atasan dengan bawahan. Komunikasi terbuka ini menjadi kanal yang memungkinkan agar segala hal dalam setiap aktivitas organisasi dapat didiskusikan. Komunikasi yang terbuka dan elegan hanya akan terbagun apabila ada kesalingpercayaan antara atasan dengan bawahan.

John C. Maxwell telah menfatwakan, “Sungguh mengagumkan ketika orang percaya kepada pemimpin; tetapi lebih mangagumkan ketika pemimpin percaya kepada bawahan!”. Ya, kesalingpercayaan akan terbangun apabila seorang pemimpin memberikan kepercayaan kepada bawahannya terlebih dahulu. Sebentuk kepercayaan yang tulus dari atasan akan mendorong terbentuknya kepercayaan bawahan kepada atasannya.

Kesalingpercayaan inilah yang akan membangun pola komunikasi yang terbuka dan produktif bagi performance organisasi. Nah, sudah siapkah anda untuk saling mempercayai dalam ketulusan? 

Mehdi, Monster, dan Robot Raksasa

Muhammad Kasman | 10:03 AM | 0 komentar
[18.03.2014] Pagi ini, aku sarapan sendiri. Istri sudah berangkat ke kantor ketika aku beranjak ke dapur untuk memenuhi lambung dan usus serta seluruh organ tubuh yang terkait dengan pencernaan. Kujalani makan dalam diam, kunikmati setiap suap dengan khusyu’.

Kutandaskan sepiring nasi dan lauk di ruang dapur, aku tak sempat beranjak ke depan teve, sebagaimana kebiasaanku sebelum-sebelumnya. Piring nasi kuisi penuh untuk yang kedua kalinya, sepertinya aku kelaparan, hehehehe...

Baru memasuki suapan kedua, si Mehdi, anakku yang kedua, ikut masuk ke dapur dan duduk sampingku. Awalnya aku pikir dia akan ikut makan, seperti kebiasaannya selama ini. Ternyata perkiraanku meleset, dia datang bukan untuk minta disuapi, dia datang untuk bertanya.

“Tetta, kalau ada monster di depanta’, kita’ apai?” Tanya si Mehdi penuh selidik.
Kaget juga saya mendengar pertanyaan anehnya, kunyahanku terhenti, dan pikirku bergerak lalu menyimpulkan bahwa ini pasti pengaruh mimpinya semalam.

“Kita’ apai monsternya, Tetta?” Kembali dia bertanya.
“Yaaaa, Tetta makan itu monster.” Jawabku sekenanya, sambil mengunyah makananku dengan gaya mengunyah yang aku dramatisir seakan-akan sedang memamah monster yang dia maksud.

“Tidak bisa, Tetta.” Protes si Mehdi.
“Kenapa tidak bisa?” Tanyaku keheranan.
“Monster kan besar, tidak muat di mulutta’....” Jelasnya.
“Jadi bagaimana dong?” Tanyaku memancing.

“Monster itu kan besar, tidak bisa dimakan.” Terang si Mehdi.
“Kita’ iyya, kalau ada monster di depanta’ kita apai, nak?” Kembali aku memancingnya.
“Saya makanki monsternya, Tetta.” Jawabnya singkat membuatku bingung.

“Kita’ bilang tadi, monsternya tidak bisa dimakan, kok kita’ makan monsternya?”
“Kita’ memang tida bisa makan monsternya, kalau saya bisa.”
“Kenapa bisa begitu?” Selidikku.
“Kalau saya berubah jadi robot raksasa, saya bisa makan monsternya, hehehehe...”

“Bagimana caranya kita’ jadi robot raksasa?”
“Saya terbang masuk ke dalam robot, kalau robotnya sudah ada.” Jelas si Mehdi.
“Memangnya, bisaki’ terbang?”
“Iyya, bisa.”
“Coba bede’ terbangki’ sekarang.”
“Tidak bisa sekarang.”
“Kok tidak bisa?”
“Karena belumpi muncul robot raksasanya.”
“Kenapa tidak muncul robotnya?”
“Karena belumpi datang monsternya.”

Aku tersenyum mendengar jawaban-jawaban si Mehdi. Aku coba merekonstruksi kembali jawaban-jawaban tersebut, sehingga aku kembali menanyainya.
“Kalau datangki monster, bisaki’ makanki karena berubahki’ jadi robot raksasa, Nak?”
“Iyye’, Tetta.”
‘Ow....” gumamku.

Aku melanjutkan makan, si Mehdi berdiri, sebelum beranjak tak lupa dia berpesan.
“Tetta, kalau ada monster, janganki’ makanki, panggilka’ biar saya yang makanki kalau berubahma’ jadi robot raksasa.”
“Iyye’, Nak. Tetta panggilki’ kalau munculki monster.”

Setelah itu, dia berlalu sambil bergaya seperti orang terbang dengan mengajukan salah satu tangannya ke depan mengikuti condong badannya.
“Wussssss........”

Mehdi berlalu, aku kembali mengunyah.
 
Copyright © 2013 | Muhammad Kasman | All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji