Mendengar Suara Hati, Menuruti Kata Tuhan

Muhammad Kasman | 9:47 AM | 0 komentar
[20.09.2014] Pagi-pagi, sambil berolahraga ringan, aku mendengarkan SMART FM untuk menambah gairah. Rupanya, pas saat itu ada renungan dari resi manajemen, Gede Prama, seorang pembicara publik yang memang saya gandrungi sejak lebih dari sepuluh tahun silam.

Renungan yang disampaikan oleh Gede Prama memiliki ciri khas, selalu diawali dengan cerita pendek yang penuh hikmah dan bisa mengantar pendengarnya untuk lebih menghayati renungan manajemen yang akan dia paparkan.

Seperti pagi ini, sebelum menjelaskan bagaimana menjalankan manajemen yang berbasis hati nurani, Gede Prama berkisah tentang Tuhan yang mencari tempat istirah. Pada kesempatan ini, aku akan mencoba menceritakan kembali kisah yang dituturkan oleh Gede Prama dengan bahasaku sendiri, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Syahdan suatu waktu, Tuhan merasa jenuh dan berkehendak untuk istirahat di tempat yang sunyi dan sepi, serta jauh dari ingar kehidupan. Untuk menemukan tempat yang tepat, Tuhan memanggil malaikat terdekatnya untuk mendapatkan masukan.
“Bagaimana ini, Aku ingin tetirah, apakah kalian punya usul mengenai tempat yang tepat?” Tuhan melontarkan tanya.
“Pilihlah puncak gunung, Tuhan. Di sana engkau akan menemukan udara yang segar, dan suasana yang senyap.” Usul Malaikat pertama.
“Ah, itu dulu,” keluh Tuhan, “Sekarang, sudah terlalu banyak orang yang mendaki gunung, puncak gunung tak lagi tenang, bahkan terkesan jorok.” LanjutNya.
“Bagaimana kalau ke dasar lautan, Tuhan? Bukankah di sana begitu temaram? Tentu menarik untuk ditempati tetirah.” Saran Malaikat kedua.
“Itu juga dulu, Malaikatku. Kini, laut sudah terlalu padat dengan para penyelam, yang mencoba menggapai dasar lautan. Bahkan ada yang menggelar upacara bendera.” Kesah Tuhan pula.

Suasana menjadi senyap, Tuhan dan para malaikatnya seperti berpikir keras menemukan tempat yang tepat. Sampai kemudian, sayup-sayup terdengar suara berbisik dari Malaikat ketiga.
“Saya mengusulkan agar Tuhan beristirahat saja di hati manusia”.
Semua terdiam mendengar bisikan Malaikat ketiga.
“Hati manusia? Kenapa engkau berpikir bahwa itu tempat yang tepat?” Telisik Tuhan.
“Sebab setahu hamba, sekarang ini, sudah sangat jarang manusia yang menyambangi harinya sendiri, mereka terlalu sibuk mendengarkan fitnah dan kebohongan, serta menikmati infotainment. Tentulah hati-hati mereka menjadi hampa, Tuhan.” Jelas Malaikat ketiga, masih dengan suara berbisik.
“Wah betul juga, penjelasanmu masuk akal. Baiklah, Aku memutuskan bermukim di hati manusia.” Konon, sejak saat itu, Tuhan menempati hati manusia.

Cerita ini mengajak kita berefleksi, bahwa terkadang, bahkan terlalu sering kita mengabaikan suara hati, melalaikan bisikan-bisikan kalbu. Kita terlalu sibuk mendengarkan bisik-bisik tetangga, bahkan mungkin menikmati hangatnya selimut tetangga. Padahal, suara hati, bisikan kalbu, dan celetuk dari nurani tak lain adalah suara, bisikan, dan bahkan celetuk Tuhan untuk mengingatkan, mengarahkan, dan menuntun kita untuk menghadapi kehidupan.

Suara itu oleh Stephen R. Covey dijelaskannya sebagai makna yang unik–kebermaknaan yang tersingkap ketika kita menghadapi tantangan-tantangan kita yang terbesar, dan yang membuat kita sama besarnya dengan tantangan-tantangan tersebut.

Masihkah kita akan mengabaikan suara tersebut? Masihkah kita menjadi tuli dengan bisikan yang berasal dari hati kita sendiri? Masihkah kita tidak peduli dengan panggilan yang menggema dari nurani  kita semua? Mari kita belajar untuk mendengar suara hati, mari kita membiasakan diri untuk dituntun oleh kata nurani, mari kita membiarkan hidup kita dituntun oleh Tuhan, Tuhan yang bermukim di hati kita semua.

Agar suara itu jernih dan bening, mari kita senantiasa membersihkan hati dengan –seperti saran Gede Prama, berbuat baik, berbuat baik, dan berbuat baik. Berbuat baik,meskipun terlihat kecil, akan menjadi sangat berarti apabila perbuatan itu dilandasi dengan cinta, ketulusan yang berasal dari nurani. Siapkah kita? Semua terpulang pada kerelaan kita untuk mendengar panggilan itu, suara itu, suara yang menggema dari hati.


Pada halaman tiga, bukunya yang berjudul Frim Chaos to Coherence (Boston: Butterworth-Heinemann, 1999), Doc Childre dan Bruce Cryer menulis tentang sebuah plakat di sebuah toko di North Carolina: Otak bilang, “Aku adalah organ tubuh yang paling cerdas.” Hati menyahut, “Siapa yang bilang begitu padamu?”. Apakah anda bisa menjawab pertanya hati kepada otak tersebut? Tanyakan kepada hatimu, dan belajarlah mendengar suara dari sana, sebab di sana, Tuhan sedang bermukim, dan akan menjawab semua tanyamu. 

Aku Versus Tikus Usil

Muhammad Kasman | 3:42 PM | 0 komentar
[13.09.2014] Ini adalah catatan tentangku, seorang kepala rumahtangga pada sebuah rumah mungil di kompleks perumahan sederhana di selatan Makassar. Catatan tentang perjuanganku menghadapi keusilan tikus yang mungkin merasa rawa yang menjadi istananya kami invasi untuk dijadikan sebagai perumahan.

#1 Tikus dan Dispenser
Kisah ini berawal dua bulan yang lalu. Ketika aku bangun tidur menjelang subuh, aku beranjak menuju dapur untuk meminum segelas air hangat, seperti kebiasaanku selama ini. Tapi begitu aku membuka pintu dapur, aku kaget bukan kepalang. Dapur seperti kebanjiran. Tapi begitu aku perhatikan, genangan air di depan pintu dapur berasal dari dispenser yang terletak tepat di sampingnya.

Dengan sigap aku turunkan galon untuk mencegah makin banyaknya air yang tercecer di lantai. Akalku melakukan analisis sederhana dan berkesimpulan, “ada kebocoran”, sekaligus menyulut tanya, “apa penyebabnya?”. Aku memutuskan untuk melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap apa yang terjadi setelah melaksanakan sholat subuh.

Usai sholat subuh, berbekal sebatang obeng, penutup bagian belakang dispenser kulepas, rembesan air semakin terlihat bekasnya. Namun masalah belum selesai, titik kebocoran belum ketemu. Saatnya penutup bagian depan kulepas, kulihat, pipa silikon yang menghubungkan tabung air panas dengan kran keluar, terkoyak. Serpihan pipa berserak bersama kotoran tikus yang baunya minta ampun.

Rupanya ini kerjaan tikus usil. Perlahan kulepas pipa yang bocor, untuk kugunakan sebagai contoh pembelian pipa baru. Untuk sementara, dispenser tak bisa digunakan, maka penutup depan dan belakangnya aku pasang sekenanya. Tak dinyana, pipa pengganti baru bisa tersedia keesokan harinya.

Keesokan harinya, begitu pipa pengganti tiba dan akan kupasang, astaga..... pipa silikon yang menghubungkan tabung air dingin dengan kran keluar, pun telah terkoyak. Terpaksa, kami harus menunggu sehari lagi untuk pemesanan satu pipa pengganti. Pada malam itu, dispenser kujaga dengan lebih hati-hati agar tikus tak lagi merusak pipa yang lain.

Sejak kejadian tersebut, saya mengubek-ubek dapur untuk mencari si tikus. Dendam di dadaku demikian membara, ingin rasanya kucincang tikus usil tersebut, lalu kuserahkan untuk menjadi santapan kucing tetangga. Agar dia merasakan betapa amarahnya diriku kepadanya. Bahkan saya berkali-kali saya menyumpahi dan mengancamnya, berharap dia mengerti dan merasa terintimidasi.

Usahaku membuahkan hasil ketika aku menggeser mesin cuci bukaan depan kapasitas 7 kilogram, beratnya minta ampun. Begitu mesin cuci bergeser sejengkal, aku mendengar suara mencicit, aku berhenti untuk memperhatikan, tak ada apa-apa. Kembali mesinnya kugeser sejengkal, kulihat darah berceceran, dan moncong tikus menyembul dari bawah mesin cuci.

Ternyata, si tikus mengumpet di kolong mesin cuci, dan tak sengaja dia tergilas ketika aku menggeser mesin cucinya. Ajalnya tiba dengan tidak sengaja. Melihat kepalanya yang hancur, dan ceceran daranya di lantai, dendamku menguap, amarahku reda. Kuambil kantong keresek, jenazah tikus itu kubungkus lalu kumasukkan ke tong sampah.

#2 Tikus dan Kompor Gas
Tadi pagi, istriku mengeluh, dia mencium aroma gas LPG di ruang dapur,
“Kak, kenapa ada bau gas kucium”
“Biasanya memang begitu kalau sudah mau habis,” aku menanggapi dengan enteng.
Tak lupa aku menambahkan informasi,
“Harga gas LPG tabung 12 kilogram sudah naik lagi loh.
“Kalau gas yang habis, masih bisa diatur, kalau listrik yang habis, itu baru masalah besar.”

Karena yakin dengan jawabanku, istriku menyalakan kompor gas untuk menanak kolak labu dan bubur kacang hijau, sekaligus menggoreng telur mata sapi untuk Cinta dan adik-adiknya.Semua berjalan dengan lancar, tak ada insiden yang terkait dengan gas yang terjadi. Setelah sarapan, aku malah memilih untuk berleha-leha di tempat tidur.

Menjelang siang, aku masuk ke ruang dapur, tercium aroma gas LPG yang cukup menyengat. Kuseret tabung LPG keluar dari ‘persembunyiannya’, kudekatkan telinga ke arah regulator untuk meyakinkan. Terdengar bunyi berdenging halus yang menandakan bahwa ada aliran gas yang keluar, sementara saat itu kompor tidak sedang menyala.

Kutelusuri pipa dari regulator ke kompor kutelusuri, mencari titik kebocoran, sambil bertanya-tanya, apa benar ada kebocoran? Sementara sekujur pipa dibalut lilitan aluminium, hal apa yang bisa membuat pipanya bocor? Karena penasaran, kompor ikut kubolak-balik, tak ada apa-apa yang kutemukan, semua dalam situasi aman.

Kembali kutelusuri pipa dengan lebih saksama, kuamati inci demi inci, akhirnya sumber masalah itu tampak juga. Di ujung pipa yang tersambung ke kompor, pada bagian yang tidak tertutup lilitan aluminium pengaman, terlihat bagian pipa yang tersayat, oh Tuhan..... rupanya ini lagi-lagi kerjaan tikus usil.

Dengan bermodal pisau dan obeng serta tanggungjawab sebagai kepala rumahtangga, pipa sambungan ke kompor kulepas, lalu kupotong bagian yang bocor kemudian kupasang kembali dengan erat. Begitu regulator kupasang, bunyi berdenging haluspun hilang, yang menandakan bahwa tak ada lagi kebocoran yang terjadi. Komporpun menyala kembali dengan aman.

Masalah berikut yang belum selesai adalah keberadaan tikusnya. Dapur kuubek-ubek untuk melacak jejak si tikus usil, namun tak ada tanda-tanda keberadaannya, rupanya dia sudah kacir duluan. Setelah berembuk dengan istri, kami menyepakati untuk menyebar racun tikus. Semoga tikusnya berminat memakannya, dan dapur kamipun kembali aman dari tikus usil.

#3 Aku dan Tikus
Sampai saat ini, aku menyimpan kecurigaan bahwa tikus pertama yang kemudian tewas terjepit mesin cuci setelah membuat pipa dispenser kami bocor adalah istri dari tikus yang muncul belakangan. 

Aku membayangkan bahwa dia masuk ke rumah kami untuk mencari istrinya tercinta yang telah pergi meninggalkan rumah dan tak kunjung kembali. Dia resah, karena istrinya yang tak kunjung datang, sementara rumahnya, tanah kavling kosong yang berada tepat di belakang dapur kami sudah mulai ditimbun dan dipasangi fondasi untuk sebuah bangunan.

Coba bayangkan betapa risaunya tikus itu. Dalam konteks sebagai kepala keluarga, aku bisa merasakan kegelisahan yang sangat, kekhawatiran yang maha besar, dikala istri tak jelas entah di mana, dan rumah kita terancam digusur. 

Tapi biar bagaimana, aku tetap akan menyebar racunnya, bukan semata-mata untuk mengakhiri derita kami dari gangguan tikus yang sedang galau itu, namun lebih dari itu, dengan menghidangkan racun, kami berusaha membantunya untuk mengakhiri derita hidup yang dia alami, sebuah derita cinta terbesar abad ini di dunia pertikusan, barangkali.

Laila Oh Laila

Muhammad Kasman | 4:30 AM | 1komentar
[13.07.2014] Makin hari, aku makin merasa bahwa Laila kekasihku bukanlah perempuan biasa. Dia adalah penjelmaan malam, bukankah malam merupakan kekasih abadi yang akan menyelimuti siapapun yang masuk dalam peraduan bersamanya?

Lihat bulu mata Lailaku yang lentik, lesung pipinya yang menarik, serta bibirnya yang terukir indah adalah anugerah alam yang membuatku menjadi demikian tenang berada dalam peluknya.

Bersama perempuan Laila, aku berani untuk mengakui bahwa lelaki tidaklah haram berairmata. Dalam remang dan temaram senyumnya, dia mampu menyamarkan sedihku yang berkarat. Dalam gelap rambutnya yang pekat dia mampu menyimpan wajah senduku dengan rapat.

Lailaku, sebagaimana malam, memiliki hati seluas alam dan jiwa sehamparan semesta. Dia mampu mendengar dengan tabah luapan keluh dan limpah ruah kesahku.

Tentu kalian meragu dengan begitu istimewanya Laila di mataku, tapi bukankah seorang kekasih memang begitu berarti bagi seorang pecinta? Begitupun aku memperlakukan Lailaku, aku merasa Tuhan telah begitu sempurna menciptakan Laila, bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan kesayangan. Siapapun yang ingin dekat dengan Tuhan, haruslah merapat ke dada Laila, dada kekasihku.

Memang pernah juga tebersit lintas ragu dalam hatiku yang rawan terhadapnya, tapi dia menjawab keraguanku dengan gumamnya, “Keraguan yang mendera hatimu memang hal yang lumrah hai pencari, tapi seharusnya was-was seperti ini tidaklah pantas muncul dalam sanubari mereka yang mencintai kalam Tuhan.”

Aku terperangah mendengar tuturnya dengan suara yang bergetar, “Wahyu suci, bahkan diturunkan oleh Allah melalui rahim Laila yang mulia, kekasihmu ini.” Lanjutnya.

“Jangan mengada-ada seperti itu kekasihku. Cukup! Aku percaya padamu, tapi jangan sampai kau berdusta atas nama Tuhan untuk meyakinkanku.” Raguku menggantung di udara.

“Tidak!!” Seru Lailaku, “Kebenaran ini harus kau ketahui, aku adalah Laila Al Qadry. Kau pernah mendengarnya? Gelar yang disematkan oleh Tuhan di dada perempuan mulia kekasihmu ini, seumpama malam yang lebih mulia dari seluruh malam.”

Laila Al Qadry perempuanku, ya demikianlah aku memanggilnya kini, bukan hanya menjadi ibu bagi kalam suci, tapi dia juga menjadi ibu bagi kelahiran para malaikat di bumi ini. Inilah yang membuat aku menjadikannya begitu istimewa, sekaligus khawatir dengan kecemburuan yang menggunung.

Pecinta mana yang tak cemburu jika kekasihnya senantiasa dinanti dan dipuja oleh lelaki lain? Tuhanpun senantiasa melafadzkan nama Laila kekasihku dengan begitu mesra.

Bahkan Laila selalu disebutnya lebih baik dari Nahar saudaranya, “Bukankah Laila senantiasa mendahului Nahar?”
Ungkap Tuhan padaku di suatu malam pada bulan ramadhan.
Membuatku nelangsa.

“Jangan bersedih begitu kekasihku, tidak cukupkah anugerah Tuhan dengan kerelaannya untuk berbagi kebahagiaan denganmu?” Rayu Lailaku dengan suara yang mendayu, selembut angin malam yang mendesir pelan di rimbun pokok bambu.

“Kebahagiaan apa!? Ini adalah siksa, Dia membakarku dengan api cemburu! Apa Dia tidak faham betapa dalam cintaku padamu!?” Jiwaku menggelora.

“Sssttttt….. jangan berisik cintaku, kau akan merusak kesunyian dan mengoyak kesenyapan yang menjadi hakekatku…”
“Tapi aku tidak bisa menerima perlakuan ini!” Sanggahku.
“Fahamilah, aku bukan kekasihmu abadi, aku bukanlah seorang pecinta, aku hanya hadir untuk membuktikan cinta Tuhan padamu.”

“Apa!!? Tuhan mencintaiku? Lalu kenapa ingin merampas dirimu dariku kekasihku?” Aku makin tidak mengerti.
Laila terdiam dalam.
Hanya desah nafasnya yang terdengar samar.

“Sadarlah, Laila kekasihmu ini hadir dengan kesunyian yang senyap hanya untuk menujukkan bahwa Tuhan tidak penah meninggalkan dan membencimu.”

Aku hanya terdiam mendengar Laila Al Qadry berceloteh, “Laila hanyalah washilah, kekasihmu ini cuma teman seperjalanan, bukan tempat berhenti, pun bukan tempat istirah dan lena. Hadirku yang demikian anggun dengan selimut gelap kelam ini adalah satu ayat bagimu agar kau mampu mencandra bahwa Tuhan adalah cahaya yang demikian benderang dan cerlang.”
Aku kian tergugu menyimak tuturnya.

“Hai jangan terdiam begitu dong…” Laila menguncang-guncangkan bahuku.

“Kau mau menegakkan shalat bersamaku malam ini kan? Ayo, kau harus bersuci, tak pantas seorang pecinta menemui kekasihnya dalam keadaan kotor.”

Laila menuntunku berdiri, aku berjalan terseok menuju pancuran di belakang rumah, langit cerah, bintang berkelip indah, namun gerimis menitis menerpa wajah.

Aku berwudhu perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara daras kalam suci melantunkan ayat terakhir ath thur, “wa mina llaili fasabbihhu wa idbaara nnujuum… Dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang.”

Kupungkas wudhu dalam gemetar, rasa bergetar, jiwa terasa lempang dan lapang, aku tersungkur bersujud. Tak sadar bibirku melafadz terbata, “Subhana lladzii asraa bi’abdihii laila…..

Siapa Sebenarnya Yang Gila

Muhammad Kasman | 5:30 AM | 4komentar
[04.07.2014] Syahdan, di sebuah kampung di kaki gunung Bawakaraeng, kampung tempat di mana guru spiritual La Capila yang bernama I Mapesona bermukim, warga sekitar mencap I Mapesona sebagai orang yang kurang waras.

Soalnya sederhana, I Mapesona yang hidup sendiri sejak ditinggal mati oleh istrinya dua tahun lalu itu punya kebiasaan aneh. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, I Mapesona menganyam tikar dari daun pandan. Namun tikar pandan yang telah dia anyam, lebih banyak yang dia urai kembali daripada yang dia jual ke pasar.

Dia hanya akan menjual tikar pandan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, selebihnya dia urai kembali untuk dia anyam lagi di hari berikutnya. Tak ada yang tahu apa alasan kenapa I Mapesona melakukan tindakan yang bagi warga sekitar merupakan tindakan bodoh tersebut.

Bahkan karena tindakannya tersebut, I Mapesona kemudian dikenal sebagai Tukang Tikar Gila di kampung tersebut. Dia menjadi bahan olok-olok anak-anak, para remaja, bahkan orang tua pun tak jarang menertawai tingkah I Mapesona.

Namun anehnya, I Mapesona begitu rajin sholat berjamaah di masjid jami’ kampung tersebut, bahkan terkadang dia juga mengumandangkan adzan apabila imam masjid terlambat, atau bila La Capila tidak berkunjung. Tak jarang, mereka hanya berjamaah bertiga, imam masjid, I Mapesona, dan La Capila.

Apabila anak-anak kampung melihat I Mapesona berjalan menuju pasar sambil membawa tikar hasil anyamannya untuk dia jual, tak jarang dia diteriaki dengan panggilan-panggilan yang menyakitkan. “Oooo Pongoro’.....” atau “Minggir, orang gila mau lewat...” merupakan teriakan yang seringkali diungkapkan anak-anak kepada I Mapesona.

Sampai pada suatu pagi yang cerah, I Mapesona membawa tikarnya ke pasar untuk dia jual. Tak sampai waktu siang, tikarnya telah terjual habis, sementara pasar masih lumayan ramai. Begitu urusannya di pasar selesai, I Mapesona berjalan dengan santai tanpa menghiraukan olok-olok yang tak pernah reda.

Rupanya, I Mapesona berjalan menuju masjid jami’ yang terletak tak jauh dari pasar. Begitu sampai, I Mapesona berwudhu, lalu melangkah mantap menuju mimbar dan meraih mikrophon lalu melantunkan adzan, sementara waktu masih sekira pukul sembilan lewat.

La Capila yang sedang melaksanakan sholat dhuha juga kaget mendengar lantunan adzan sepagi itu, tapi belum sempat dia beraksi, warga yang dari pasar sudah berkerumun di halaman masjid sambil berteriak-teriak dengan beringas.

“Oiii I Mapesona, pongoro’, kenapako adzan jam segini? Dasar gila!”, ada juga, “Mana Pak Desa, ini I Mapesona dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa.” Dan berbagai teriakan sejenis yang tidak berhenti bersahut-sahutan sampai I Mapesona menyelesaikan adzannya.

Begitu I Mapesona beranjak menuju pintu masjid, seorang warga mengusulkan agar I Mapesona di tangkap saja dan diamankan di kantor desa agar tidak membuat ulah lagi. Suasana memanas, beberapa pemuda bergerak ingin meringkus I Mapesona.

Untung La Capila cepat datang menengahi dan meminta pengertian warga atas tingkah polah I Mapesona. Namun I Mapesona, seperti tak terjadi apa-apa, malah menatap tajam kepada semua warga yang berkumpul di halaman masjid, sepertinya dia akan menyampaikan sesuatu.

 “Siapa sebenarnya yang gila, saya atau kalian? Ketika saya adzan di waktu dhuhur, tak ada satupun yang datang ke masjid. Tapi begitu saya adzan di waktu yang salah, kalian berduyun-duyun ke masjid. Jadi siapa sebenarnya yang lebih gila?” Seru I Mapesona lirih.

“Kalian lebih tertarik memenuhi panggilan adzan yang keliru daripada panggilan adzan yang tepat dan mengajak kalian beribadah kepada Allah, lalu kalian merasa diri lebih waras dari saya dan pantas menyebut saya gila, pongoro’, dan kurang waras?”

Seruan I Mapesona membuat warga yang berkerumun tertunduk malu dengan muka yang kuyu. Bahkan beberapa orang tua berbisik, bahwa apa yang dikemukakan oleh I Mapesona ada benarnya. Tak lama, kerumunan pun membubarkan diri.

Tuhan Memilih Untuk Tetap Menanti

Muhammad Kasman | 9:13 AM | 0 komentar

[01.07.2014] Seikat doa teronggok di kaki sepi

Mulut mulut sibuk saling mencaci
Hati hati diliputi iri dengki

Tuhan memilih untuk menanti

Oooo, doa doa yang hampir basi
Penuh gigil dan pucat pasi
Menanti nasib dipanjat-pohonkan
Meniti tepi malam dengan keagungan

Sementara para pengkhotbah
Enggan menengadah
Lebih memilih jadi pendosa 
daripada seorang pendoa

Seikat doa teronggok tanpa arti
Mulut mulut masih mencaci
Hati hati terus mendengki

Tuhan memilih untuk tetap menanti

Kunang-Kunang Bulan Juni

Muhammad Kasman | 5:30 PM | 0 komentar

[20.06.2014] Aku mencintaimu, masih mencintaimu, dan akan terus berusaha mencintaimu. Aku ungkapkan ini sebagai ungkapan rasa bahagia atas hadirmu dalam hidupku. Mungkin ada sebagian orang akan mencibir bahwa ini ungkapan basi, tapi apa salah seorang suami mengungkapkan perasaannya pada istrinya? Namun di atas semua itu, lebih pantas kita bersyukur kepadaNya, Dia yang telah memberi kita segalanya, terutama hidup, rasa cinta dan kebersamaan.

Sir Muhammad Iqbal pernah mengatakan, “Aku ragu ada dan tiadaku. Tapi cinta mengumumkan aku ada!” Ungkapan merupakan sebuah pengakuan akan betapa kuat, betapa hebat, dan betapa luar biasanya cinta. Namun lagi-lagi betapa luar biasanya Dia, Dia yang telah menghadirkanmu 33 tahun yang lalu (20 Juni 1981), untukku, agar kau bisa mencintaiku, aku bisa menerima cintamu, dan kita bersama meraih cintaNya.

Jujur, hidup menurutku tak berwarna, tapi hadirmu membuat hidup menjadi berwarna-warni. Cintamu ibarat kesumba ajaib, menyepuh hidupku menjadi merah, biru, kuning, bahkan ungu dan jingga. Lahirmu adalah anugerah, meski kau tak seterang mentari, dan selembut rembulan. Kau adalah kunang-kunang dengan kerlip mungil yang terus berpijar, mengukir nuansa di rembang petang, selepas hujan.

Diriku adalah temaram cahaya yang senantiasa merindu kerlap kunang-kunang. Pun aku bentangan rindu yang butuh suar untuk meniti jalan pulang. Hadirmu menyuar asa yang melambung, memberi arah pada perjalanan menempuh hidup ini. Di hari ulang tahunmu yang ke-33 ini, kunang-kunangku, aku menulis ini untukmu. Entah ini puisi atau bukan, tapi kuharap engkau tahu, hadirmu sangat berarti buatku. Selamat Ulang Tahun, Nona.

Tak ada yang lebih indah di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, dihalaunya sunyi-sepi
dan dihadirkannya harmoni

Tak ada yang lebih tabah di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, tetap tekun merajut asa
merenda cita dan cinta

Tak ada yang lebih arif di bulan juni
bagiku, dibanding sitti wahyuni
istriku, tak lelah mengeja rasa

memilih suka, memilah duka
 
Copyright © 2013 | Muhammad Kasman | All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji