Rumah Mungilku, Perpustakaanku

muhammad kasman | 6:54 AM | 0 komentar

[26.10.2014] Beberapa waktu yang lalu, ibu-ibu di kompleks perumahan tempat tinggal kami di kawasan Mallengkeri, Makassar, menggelar arisan bulanan di rumah sederhana –untuk tidak mengatakan sempit, kami.

Karena keterbatasan ruang, lemari buku yang memuat buku dengan berbagai tema yang keluarga kami punyai, ditempatkan di ruang tamu. Lemari buku memenuhi separuh dinding.

Karena arisan belum dimulai, mereka menikmati cemilan yang tersedia, dan tentu saja sambil ngobrol dengan berbagai tema. Dari sekian banyan tema yang mereka obrolkan, yang menarik perhatianku adalah komentar-komentar mereka tentang koleksi buku kami.

“Suaminya kerja di mana ya? Lihat bukunya banyak sekali.” Bisik seorang ibu.
“Kabarnya sih di Inspektorat.” Jawab ibu yang lain.
“Tapi kok bukunya banyak sekali? Kerjaan orang Inspektorat kan tidak terkait dengan buku?” Kembali ibu yang tadi bertanya.
“Ah, mungkin di perpustakaan daerah.” Celetuk yang lain lagi.
Masih banyak jawaban yang berseliweran.

Awalnya, ketika mendengar komentar mereka, aku sempat tersinggung, sebab mereka mengaitkan antara jumlah koleksi buku yang kami punya dengan pekerjaanku yang seharusnya di perpustakaan daerah. Aku merasa mereka mencurigaiku mengutil buku dari tempat kerja.

Namun aku sadar, mereka tentulah heran, sebab berbeda dengan keluarga kebanyakan, ketika ruang tamu mereka dipenuhi dengan perbak-pernik hiasan serta meubelir yang kinclong, ruang tamu kami sesak dengan lemari buku.

Komentar-komentar mereka membuatku tercenung, bahkan merasa kasihan. Reaksi mereka begitu melihat kehadiran buku-buku tidak seperti harapanku. Betapa, ibu-ibu yang sebagian besar merupakan dari golongan terpelajar, tidak begitu familiar dengan kehadiran buku.

Aku kemudian merenung, sepertinya ada yang keliru dengan masyarakat kita. Makassar yang menggembar-gemborkan untuk menjadi kota dunia, dihuni oleh masyarakat yang terasing dari buku –artefak tradisi literasi yang paling nyata.

Membangun kecintaan pada buku selalu menjadi impianku sejak dulu. Aku membayangkan ketika aku berkunjung ke rumah tetangga atau kerabat, kita tidak akan membincang tentang model kursi tamu, harga taplak meja dan gorden, atau yang lain.

Kita akan berbincang tentang judul buku terbaru yang tersaji di lemari buku sebagai artefak utama di ruang tamu setiap keluarga. Kita tidak akan menghabiskan waktu ngerumpi tentang prosesi pernikahan Raffi Ahmad, atau trend terbaru dari Syaharini.

Kita akan menghabiskan waktu bertamu dengan membaca puisi bersama, membincang novel-novel menawan atau menyusun rencana menerbitkan karya kolaborasi melalui self publishing. Bukankah itu indah?

Aku jadi teringat dengan Si Brewok –Karl Marx, bila membayangkan situasi yang demikian.

Selamatkan Anakmu Dari Kekerasan Simbolik

muhammad kasman | 9:00 AM | 0 komentar
[23.10.2014] Anda mungkin pernah menonton video tentang MOP Papua yang diproduksi di Kota Sorong, Papua Barat. Salah satu seri video dengan motto “Epen kah? Cupen toh!” ini menceritakan tentang pelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas.

Dalam sekuel tersebut digambarkan seorang guru perempuan menuliskan kata ‘bibi’ di papan tulis dan meminta para siswa untuk menyusun sebuah kalimat dengan menggunakan kata ‘bibi’. Murid-murid dengan berbagai latar belakang suku mulai menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebutkan kalimat yang mereka susu.

Namun begitu tiba giliran si Dody, suasana lucu yang tercipta sejak awal video menyajikan kejutan yang cerdik. Dengan muka kebingungan, si Dody celingak-celinguk tak mampu menemukan kalimat yang pas dan didalamnya terdapat kata ‘bibi’ sebagaimana instruksi ibu guru.

Video itu bahkan memperlihatkan bagaimana si Dody harus bertanya kepada si Paijo yang duduk di sampingnya, “Bibi itu apa?”. Namun setelah didesak, dengan terpaksa si Dody berteriak lantang, “Ikan poro bibi”. Sontak jawaban Dody membuat seisi kelas terpingkal-pingkal.

Inilah sebuah fragmen yang dalam pemikiran sosiolog Prancis Pierre Bourdieu disebutnya kekerasan simbolik dalam dunia pendidikan. Sebuah konsep yang menjelaskan mekanisme yang digunakan kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” kebiasaan, gaya hidup, budaya, dan bahkan ideologinya, kepada kelompok kelas bawah yang mereka subordinasi.

Rerangkai budaya tersebut yang oleh Bourdieu dilabelinya dengan istilah habitus menjadi alat dominasi yang begitu lembut dan melenakan bagi kelompok yang terdominasi.

Dalam video ini diperlihatkan bagaimana bahasa sebagai instrumen kebudayaan yang dijajakan dalam proses pendidikan membuat seorang peserta didik dipaksa untuk menerima habitus tertentu, dan harus terasing dari realitasnya sendiri. Dody dituntut untuk membuat kalimat dengan kata yang bukan berasal dari habitus alaminya.

Aku teringat dengan video si Dody ini ketika melihat pekerjaan rumah yang dibawa pulang oleh anakku yang pertama, Qonitah Wafiyah Tenri Bilang, kemarin. Cinta –demikian kami menyapa Qonitah, mendapatkan tugas untuk menuliskan kalimat “Papi suka minum kopi”, sebanyak 13 kali di buku tulisnya.

Memang secara selintas, kalimat ini tidak mengandung masalah sama sekali, ini adalah kalimat biasa yang tak punya tendensi, sekedar untuk melatih kemampuan menulis seorang peserta didik. Tapi justru disitulah letak pemicu kecurigaanku, bahwa ini sebentuk kekerasan.

Iseng aku bertanya kepadanya, “Cinta, apa itu papi, Nak?”
Dengan santai dia menjawab, “Tidak tahu, Tetta.”
Jawabannya membuatku masygul, seorang anak yang lugu, dicekoki dengan habitus kelas tertentu yang tidak dia pahami.

Kenapa harus ‘papi’? Pilihan kata sapaan untuk orang tua lelaki itu mengusikku. Sapaan yang sangat kentara mewakili lapis sosial tertentu, dan secara tegas berbeda dengan ‘tetta’ atau ‘etta’, sapaan yang digunakannya kepadaku, sebuah sapaan yang umum digunakan pada masyarakat Bugis-Makassar.

Atau kenapa bukan ‘ayah’ sapaan bahasa Indonesia untuk orang tua lelaki yang lebih egaliter, sebagaimana aku menyapa bapakku, dan dia juga ikut-ikutan menyapa kakeknya dengan sapaan itu. Sekali lagi, kenapa harus ‘papi’? Dan  Bourdieu-lah yang memberi jawaban atas gelisahku: itu habitus yang dipaksakan!

Bourdieu dengan remeh memandang sekolah tak lebih dari sekedar sebuah alat untuk mempertahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah menjadi wadah bagi proses reproduksi budaya (cultural reproduction) yang begitu koersif, upaya melanggengkan ketidaksetaraan ekonomi antargenerasi, dan diterimanya kondisi itu sebagai sebuah habitus alami.

Habitus kelas dominan mengukuhkan dominasinya melalui hidden curriculum –sebuah istilah ciamik dari Ivan Illich. Sehingga siswa dari beragam strata dan lapisan masyarakat akan menerima ketimpangan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya begitu.

Dalam kasus si Cinta, stratifikasi sosial dilanggengkan dengan mengukuhkan posisi dominan kelas sosial pengguna sapaan papi dibanding kelas sosial pengguna sapaan tetta, ayah, atau mungkin ambe’ dan ambo’. Maka waspadalah para orang tua, jangan biarkan anakmu menjadi korban tindak kekerasan simbolik. Disinilah peran kita dituntut untuk melakukan counter-hegemoni dengan cara yang koersif pula.

Sambil membantu Cinta membetulkan model huruf yang dia tuliskan, aku mencoba menjelaskan padanya bahwa papi tak ada bedanya dengan semua sapaan lain pada orang tua lelaki. Papi tidak lebih baik dari etta, tetta, ayah, ambo’ atau ambe’ untuk menyapa bapakmu ini.


Semoga dia ingat menggunakannya nanti sebagaimana kebiasannya selama ini, Cinta akan menyapaku tetta bila berkumpul dengan keluarga dari Takalar, etta bila di tengah keluarga dari Bone, dan dia memanggilku abi bila di tengah-tengah alumni HMI. Bahkan terkadang, dalam sehari, Cinta bisa menyapaku dengan beragam panggilan, kecuali papi yang ternyata baru dia ketahui berarti orang tua laki-laki, juga.

Dari Kucing Schrodinger Ke Kebingungan, hahahah....

muhammad kasman | 2:46 PM | 0 komentar
[20.10.2014] Pernah mendengar “kucing Schrodinger”? Seekor kucing yang ditempatkan dalam sebuah kotak baja bersama sebuah alat pencacah Geiger dan  zat radioaktif dalam jumlah yang kecil ---potongan yang begitu kecil, namun dengan 50% kemungkinan bahwa salah satu atomnya akan membusuk dalam waktu satu jam.

Begitu salah satu atom membusuk dan melepaskan radiasi, alat pencacah Geiger akan mendeteksinya, lalu memicu mekanisme pegas yang menyebabkan sebuah palu menghantam tabung kecil yang mengandung asam hidrosianik, akhirnya gas hidrosianik itu akan menyebar dalam kotak baja dan mengakibatkan kucing akan mati.

Percobaan yang pertama kali dirancang oleh fisikawan Austria, Erwin Schrodinger –yang kemudian dikenal sebagai pelopor mekanika kuantum-- pada tahun 1935 ini menunjukkan bahwa kondisi atom zat radioaktif yang berbagi tempat pada sebuah kotak baja berada dalam ‘superposisi’ dari dua keadaan yang mungkin: membusuk dan tidak membusuk, begitupun dengan kucing: hidup dan mati.

Kondisi superposisi yang dialami oleh atom dan kucing tersebut akan terus menjadi misteri yang belum terpecahkan, selama sebuah pengamatan tidak dilakukan. Jadi, kesimpulan tentang apa yang terjadi pada kucing Schrodinger, tergantung pada keterlibatan seorang pengamat atau peneliti.

Mengenai keterlibatan pengamat atau peneliti dalam eksperimen kucing Schrodinger, menimbulkan soal tersendiri. Dan memang, dilema kucing Schrodinger ini sengaja diciptakan untuk menunjukkan secara gamblang betapa absurdnya pemahaman ortodoks mengenai dunia kuatum, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut Newtonian secara kukuh.

Kondisi ‘superposisi’ kucing Schrodinger yang merupakan fenomena kuantum akan sulit diukur secara pasti sebagaimana yang selama ini didaku oleh fisikawan Newtonian, bahwa setiap benda (struktur) selalu terdiri dari bagian-bagian atau partikel dasar yang masing-masing bersifat independen dan terisolasi dalam ruang dan waktu yang bersifat absolut yang saling berhubungan melalui aksi dan reaksi.

Seperti ditegaskan oleh salah seorang penyokong teori kuantum, Werner Heisenberg (1927). Haisenberg mengatakan bahwa posisi dan momentum partikel-partikel sub-atomik tidak dapat diukur secara tepat pada waktu yang sama. Ini karena interaksi dan gerak yang terjadi antara atom-atom dan partikel sub-atomik pada dasarnya tidak menentu.

Meskipun teori kuantum juga menyisakan banyak tanya, tapi kehadirannya menyadarkan kita bahwa semesta bukanlah hal yang dapat dibagi-bagi menjadi atom-atom yang independen dan utuh dalam dirinya, dan semesta bukanlah sekedar sekumpulan atom-atom independen, melainkan sebuah jejaring interkoneksitas yang bersifat organis, hidup dan utuh, tak bisa dipecah dan dibelah menjadi entitas tunggal dan absolut.

Pergeseran cara pandang secara ontologis ini berimplikasi pada pergeseran secara epistemologis dan aksiologis, bahkan sampai pada pilihan metode penelitian yang dilakukan. Keterlibatan seorang pengamat atau peneliti terhadap dilema kucing Schrodinger tidak tepat bila dihampiri dengan pendekatan penelitian kuantitatif yang selama ini diagung-agungkan kaum positivisme.

Secara epistemologis, mekanika kantum memperlihatkan bahwa realitas bukanlah sebuah mesin raksasa yang bekerja secara mekanistik dan bisa diurai komponen-komponennya untuk mengamati interaksi yang terjadi antar komponennya, realitas bukanlah sebuah struktur kaku, dianya adalah jejaring tanpa simpul yang bisa terurai.

Ini berarti bahwa mengetahui interaksi antar komponen dari realitas, tidak sertamerta membuat kita bisa mengetahui mekanisme yang bekerja dalam kondisi dan situasi apapun. Tapi karena realitas merupakan sebuah proses dimana setiap entitas berinteraksi secara organis dan dinamis, maka kita hanya bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang terus bergerak dan tidak bisa direduksi menjadi simpulan determinan.

Secara aksiologis, kita bisa belajar dari teori kuantum bahwa pertimbangan subyektif, makna simbolik, serta refleksi etis dan estetik pantas mendapat tempat karena setiap entitas teramati selalu hadir bersama kemungkinan atau probabilitas, tergantung dari posisi mana dan dengan cara apa kita mengamatinya, atau yang disebut dimensi fraktal.

Dimensi fraktal membuat obyek amatan selalu dalam suasana dan situasi berbeda, unik, dan khas --sebagaimana dalam eksperimen kucing Schrodinger, sehingga obyektivitas menjadi hal yang mustahil. Yang ada hanyalah rentetan suasana obyek amatan dalam konteks yang selalu bergerak dan berubah secara dinamis. Maka nilai pengetahuan tidaklah bersifat obyektif, melainkan selalu mengedepankan kontekstualitas.

Secara teknis, pergeseran paradigmatik pada tataran ontologis, epistemologis dan aksiologis mendorong lahirnya gugatan terhadap metode penelitian kuantitatif yang berangkat dari paradigma sains Newtonian –atau lebih dikenal sebagai penganut sains positivisme, yang telah dikritik oleh para pengusung fisika kuantum ---mereka yang mendorong arus postpositivisme.

Namun sayang sekali, suasana feodalistik di beberapa kampus dalam dunia pendidikan tinggi kita masih mencekoki kesadaran sebagian besar penjaga gerbang kebenaran saintifik yang bersifat positivis. Hal ini berimplikasi pada tidak tersedianya ruang yang lapang bagi tumbuh dan berkembangnya paradigma baru keilmuan. Pendekatan kuantitatif menjadi rezim kebenaran yang tak membolehkan munculnya interupsi, yang pada gilirannya memasung kreativitas dan membungkam mereka yang bersuara berbeda.

nb: ini bukan tulisan ilmiah, melainkan sekedar curhat, hehehehe..... 

Mendengar Suara Hati, Menuruti Kata Tuhan

muhammad kasman | 9:47 AM | 0 komentar
[20.09.2014] Pagi-pagi, sambil berolahraga ringan, aku mendengarkan SMART FM untuk menambah gairah. Rupanya, pas saat itu ada renungan dari resi manajemen, Gede Prama, seorang pembicara publik yang memang saya gandrungi sejak lebih dari sepuluh tahun silam.

Renungan yang disampaikan oleh Gede Prama memiliki ciri khas, selalu diawali dengan cerita pendek yang penuh hikmah dan bisa mengantar pendengarnya untuk lebih menghayati renungan manajemen yang akan dia paparkan.

Seperti pagi ini, sebelum menjelaskan bagaimana menjalankan manajemen yang berbasis hati nurani, Gede Prama berkisah tentang Tuhan yang mencari tempat istirah. Pada kesempatan ini, aku akan mencoba menceritakan kembali kisah yang dituturkan oleh Gede Prama dengan bahasaku sendiri, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Syahdan suatu waktu, Tuhan merasa jenuh dan berkehendak untuk istirahat di tempat yang sunyi dan sepi, serta jauh dari ingar kehidupan. Untuk menemukan tempat yang tepat, Tuhan memanggil malaikat terdekatnya untuk mendapatkan masukan.
“Bagaimana ini, Aku ingin tetirah, apakah kalian punya usul mengenai tempat yang tepat?” Tuhan melontarkan tanya.
“Pilihlah puncak gunung, Tuhan. Di sana engkau akan menemukan udara yang segar, dan suasana yang senyap.” Usul Malaikat pertama.
“Ah, itu dulu,” keluh Tuhan, “Sekarang, sudah terlalu banyak orang yang mendaki gunung, puncak gunung tak lagi tenang, bahkan terkesan jorok.” LanjutNya.
“Bagaimana kalau ke dasar lautan, Tuhan? Bukankah di sana begitu temaram? Tentu menarik untuk ditempati tetirah.” Saran Malaikat kedua.
“Itu juga dulu, Malaikatku. Kini, laut sudah terlalu padat dengan para penyelam, yang mencoba menggapai dasar lautan. Bahkan ada yang menggelar upacara bendera.” Kesah Tuhan pula.

Suasana menjadi senyap, Tuhan dan para malaikatnya seperti berpikir keras menemukan tempat yang tepat. Sampai kemudian, sayup-sayup terdengar suara berbisik dari Malaikat ketiga.
“Saya mengusulkan agar Tuhan beristirahat saja di hati manusia”.
Semua terdiam mendengar bisikan Malaikat ketiga.
“Hati manusia? Kenapa engkau berpikir bahwa itu tempat yang tepat?” Telisik Tuhan.
“Sebab setahu hamba, sekarang ini, sudah sangat jarang manusia yang menyambangi harinya sendiri, mereka terlalu sibuk mendengarkan fitnah dan kebohongan, serta menikmati infotainment. Tentulah hati-hati mereka menjadi hampa, Tuhan.” Jelas Malaikat ketiga, masih dengan suara berbisik.
“Wah betul juga, penjelasanmu masuk akal. Baiklah, Aku memutuskan bermukim di hati manusia.” Konon, sejak saat itu, Tuhan menempati hati manusia.

Cerita ini mengajak kita berefleksi, bahwa terkadang, bahkan terlalu sering kita mengabaikan suara hati, melalaikan bisikan-bisikan kalbu. Kita terlalu sibuk mendengarkan bisik-bisik tetangga, bahkan mungkin menikmati hangatnya selimut tetangga. Padahal, suara hati, bisikan kalbu, dan celetuk dari nurani tak lain adalah suara, bisikan, dan bahkan celetuk Tuhan untuk mengingatkan, mengarahkan, dan menuntun kita untuk menghadapi kehidupan.

Suara itu oleh Stephen R. Covey dijelaskannya sebagai makna yang unik–kebermaknaan yang tersingkap ketika kita menghadapi tantangan-tantangan kita yang terbesar, dan yang membuat kita sama besarnya dengan tantangan-tantangan tersebut.

Masihkah kita akan mengabaikan suara tersebut? Masihkah kita menjadi tuli dengan bisikan yang berasal dari hati kita sendiri? Masihkah kita tidak peduli dengan panggilan yang menggema dari nurani  kita semua? Mari kita belajar untuk mendengar suara hati, mari kita membiasakan diri untuk dituntun oleh kata nurani, mari kita membiarkan hidup kita dituntun oleh Tuhan, Tuhan yang bermukim di hati kita semua.

Agar suara itu jernih dan bening, mari kita senantiasa membersihkan hati dengan –seperti saran Gede Prama, berbuat baik, berbuat baik, dan berbuat baik. Berbuat baik,meskipun terlihat kecil, akan menjadi sangat berarti apabila perbuatan itu dilandasi dengan cinta, ketulusan yang berasal dari nurani. Siapkah kita? Semua terpulang pada kerelaan kita untuk mendengar panggilan itu, suara itu, suara yang menggema dari hati.


Pada halaman tiga, bukunya yang berjudul Frim Chaos to Coherence (Boston: Butterworth-Heinemann, 1999), Doc Childre dan Bruce Cryer menulis tentang sebuah plakat di sebuah toko di North Carolina: Otak bilang, “Aku adalah organ tubuh yang paling cerdas.” Hati menyahut, “Siapa yang bilang begitu padamu?”. Apakah anda bisa menjawab pertanya hati kepada otak tersebut? Tanyakan kepada hatimu, dan belajarlah mendengar suara dari sana, sebab di sana, Tuhan sedang bermukim, dan akan menjawab semua tanyamu. 

Aku Versus Tikus Usil

muhammad kasman | 3:42 PM | 0 komentar
[13.09.2014] Ini adalah catatan tentangku, seorang kepala rumahtangga pada sebuah rumah mungil di kompleks perumahan sederhana di selatan Makassar. Catatan tentang perjuanganku menghadapi keusilan tikus yang mungkin merasa rawa yang menjadi istananya kami invasi untuk dijadikan sebagai perumahan.

#1 Tikus dan Dispenser
Kisah ini berawal dua bulan yang lalu. Ketika aku bangun tidur menjelang subuh, aku beranjak menuju dapur untuk meminum segelas air hangat, seperti kebiasaanku selama ini. Tapi begitu aku membuka pintu dapur, aku kaget bukan kepalang. Dapur seperti kebanjiran. Tapi begitu aku perhatikan, genangan air di depan pintu dapur berasal dari dispenser yang terletak tepat di sampingnya.

Dengan sigap aku turunkan galon untuk mencegah makin banyaknya air yang tercecer di lantai. Akalku melakukan analisis sederhana dan berkesimpulan, “ada kebocoran”, sekaligus menyulut tanya, “apa penyebabnya?”. Aku memutuskan untuk melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap apa yang terjadi setelah melaksanakan sholat subuh.

Usai sholat subuh, berbekal sebatang obeng, penutup bagian belakang dispenser kulepas, rembesan air semakin terlihat bekasnya. Namun masalah belum selesai, titik kebocoran belum ketemu. Saatnya penutup bagian depan kulepas, kulihat, pipa silikon yang menghubungkan tabung air panas dengan kran keluar, terkoyak. Serpihan pipa berserak bersama kotoran tikus yang baunya minta ampun.

Rupanya ini kerjaan tikus usil. Perlahan kulepas pipa yang bocor, untuk kugunakan sebagai contoh pembelian pipa baru. Untuk sementara, dispenser tak bisa digunakan, maka penutup depan dan belakangnya aku pasang sekenanya. Tak dinyana, pipa pengganti baru bisa tersedia keesokan harinya.

Keesokan harinya, begitu pipa pengganti tiba dan akan kupasang, astaga..... pipa silikon yang menghubungkan tabung air dingin dengan kran keluar, pun telah terkoyak. Terpaksa, kami harus menunggu sehari lagi untuk pemesanan satu pipa pengganti. Pada malam itu, dispenser kujaga dengan lebih hati-hati agar tikus tak lagi merusak pipa yang lain.

Sejak kejadian tersebut, saya mengubek-ubek dapur untuk mencari si tikus. Dendam di dadaku demikian membara, ingin rasanya kucincang tikus usil tersebut, lalu kuserahkan untuk menjadi santapan kucing tetangga. Agar dia merasakan betapa amarahnya diriku kepadanya. Bahkan saya berkali-kali saya menyumpahi dan mengancamnya, berharap dia mengerti dan merasa terintimidasi.

Usahaku membuahkan hasil ketika aku menggeser mesin cuci bukaan depan kapasitas 7 kilogram, beratnya minta ampun. Begitu mesin cuci bergeser sejengkal, aku mendengar suara mencicit, aku berhenti untuk memperhatikan, tak ada apa-apa. Kembali mesinnya kugeser sejengkal, kulihat darah berceceran, dan moncong tikus menyembul dari bawah mesin cuci.

Ternyata, si tikus mengumpet di kolong mesin cuci, dan tak sengaja dia tergilas ketika aku menggeser mesin cucinya. Ajalnya tiba dengan tidak sengaja. Melihat kepalanya yang hancur, dan ceceran daranya di lantai, dendamku menguap, amarahku reda. Kuambil kantong keresek, jenazah tikus itu kubungkus lalu kumasukkan ke tong sampah.

#2 Tikus dan Kompor Gas
Tadi pagi, istriku mengeluh, dia mencium aroma gas LPG di ruang dapur,
“Kak, kenapa ada bau gas kucium”
“Biasanya memang begitu kalau sudah mau habis,” aku menanggapi dengan enteng.
Tak lupa aku menambahkan informasi,
“Harga gas LPG tabung 12 kilogram sudah naik lagi loh.
“Kalau gas yang habis, masih bisa diatur, kalau listrik yang habis, itu baru masalah besar.”

Karena yakin dengan jawabanku, istriku menyalakan kompor gas untuk menanak kolak labu dan bubur kacang hijau, sekaligus menggoreng telur mata sapi untuk Cinta dan adik-adiknya.Semua berjalan dengan lancar, tak ada insiden yang terkait dengan gas yang terjadi. Setelah sarapan, aku malah memilih untuk berleha-leha di tempat tidur.

Menjelang siang, aku masuk ke ruang dapur, tercium aroma gas LPG yang cukup menyengat. Kuseret tabung LPG keluar dari ‘persembunyiannya’, kudekatkan telinga ke arah regulator untuk meyakinkan. Terdengar bunyi berdenging halus yang menandakan bahwa ada aliran gas yang keluar, sementara saat itu kompor tidak sedang menyala.

Kutelusuri pipa dari regulator ke kompor kutelusuri, mencari titik kebocoran, sambil bertanya-tanya, apa benar ada kebocoran? Sementara sekujur pipa dibalut lilitan aluminium, hal apa yang bisa membuat pipanya bocor? Karena penasaran, kompor ikut kubolak-balik, tak ada apa-apa yang kutemukan, semua dalam situasi aman.

Kembali kutelusuri pipa dengan lebih saksama, kuamati inci demi inci, akhirnya sumber masalah itu tampak juga. Di ujung pipa yang tersambung ke kompor, pada bagian yang tidak tertutup lilitan aluminium pengaman, terlihat bagian pipa yang tersayat, oh Tuhan..... rupanya ini lagi-lagi kerjaan tikus usil.

Dengan bermodal pisau dan obeng serta tanggungjawab sebagai kepala rumahtangga, pipa sambungan ke kompor kulepas, lalu kupotong bagian yang bocor kemudian kupasang kembali dengan erat. Begitu regulator kupasang, bunyi berdenging haluspun hilang, yang menandakan bahwa tak ada lagi kebocoran yang terjadi. Komporpun menyala kembali dengan aman.

Masalah berikut yang belum selesai adalah keberadaan tikusnya. Dapur kuubek-ubek untuk melacak jejak si tikus usil, namun tak ada tanda-tanda keberadaannya, rupanya dia sudah kacir duluan. Setelah berembuk dengan istri, kami menyepakati untuk menyebar racun tikus. Semoga tikusnya berminat memakannya, dan dapur kamipun kembali aman dari tikus usil.

#3 Aku dan Tikus
Sampai saat ini, aku menyimpan kecurigaan bahwa tikus pertama yang kemudian tewas terjepit mesin cuci setelah membuat pipa dispenser kami bocor adalah istri dari tikus yang muncul belakangan. 

Aku membayangkan bahwa dia masuk ke rumah kami untuk mencari istrinya tercinta yang telah pergi meninggalkan rumah dan tak kunjung kembali. Dia resah, karena istrinya yang tak kunjung datang, sementara rumahnya, tanah kavling kosong yang berada tepat di belakang dapur kami sudah mulai ditimbun dan dipasangi fondasi untuk sebuah bangunan.

Coba bayangkan betapa risaunya tikus itu. Dalam konteks sebagai kepala keluarga, aku bisa merasakan kegelisahan yang sangat, kekhawatiran yang maha besar, dikala istri tak jelas entah di mana, dan rumah kita terancam digusur. 

Tapi biar bagaimana, aku tetap akan menyebar racunnya, bukan semata-mata untuk mengakhiri derita kami dari gangguan tikus yang sedang galau itu, namun lebih dari itu, dengan menghidangkan racun, kami berusaha membantunya untuk mengakhiri derita hidup yang dia alami, sebuah derita cinta terbesar abad ini di dunia pertikusan, barangkali.

Laila Oh Laila

muhammad kasman | 4:30 AM | 1komentar
[13.07.2014] Makin hari, aku makin merasa bahwa Laila kekasihku bukanlah perempuan biasa. Dia adalah penjelmaan malam, bukankah malam merupakan kekasih abadi yang akan menyelimuti siapapun yang masuk dalam peraduan bersamanya?

Lihat bulu mata Lailaku yang lentik, lesung pipinya yang menarik, serta bibirnya yang terukir indah adalah anugerah alam yang membuatku menjadi demikian tenang berada dalam peluknya.

Bersama perempuan Laila, aku berani untuk mengakui bahwa lelaki tidaklah haram berairmata. Dalam remang dan temaram senyumnya, dia mampu menyamarkan sedihku yang berkarat. Dalam gelap rambutnya yang pekat dia mampu menyimpan wajah senduku dengan rapat.

Lailaku, sebagaimana malam, memiliki hati seluas alam dan jiwa sehamparan semesta. Dia mampu mendengar dengan tabah luapan keluh dan limpah ruah kesahku.

Tentu kalian meragu dengan begitu istimewanya Laila di mataku, tapi bukankah seorang kekasih memang begitu berarti bagi seorang pecinta? Begitupun aku memperlakukan Lailaku, aku merasa Tuhan telah begitu sempurna menciptakan Laila, bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan kesayangan. Siapapun yang ingin dekat dengan Tuhan, haruslah merapat ke dada Laila, dada kekasihku.

Memang pernah juga tebersit lintas ragu dalam hatiku yang rawan terhadapnya, tapi dia menjawab keraguanku dengan gumamnya, “Keraguan yang mendera hatimu memang hal yang lumrah hai pencari, tapi seharusnya was-was seperti ini tidaklah pantas muncul dalam sanubari mereka yang mencintai kalam Tuhan.”

Aku terperangah mendengar tuturnya dengan suara yang bergetar, “Wahyu suci, bahkan diturunkan oleh Allah melalui rahim Laila yang mulia, kekasihmu ini.” Lanjutnya.

“Jangan mengada-ada seperti itu kekasihku. Cukup! Aku percaya padamu, tapi jangan sampai kau berdusta atas nama Tuhan untuk meyakinkanku.” Raguku menggantung di udara.

“Tidak!!” Seru Lailaku, “Kebenaran ini harus kau ketahui, aku adalah Laila Al Qadry. Kau pernah mendengarnya? Gelar yang disematkan oleh Tuhan di dada perempuan mulia kekasihmu ini, seumpama malam yang lebih mulia dari seluruh malam.”

Laila Al Qadry perempuanku, ya demikianlah aku memanggilnya kini, bukan hanya menjadi ibu bagi kalam suci, tapi dia juga menjadi ibu bagi kelahiran para malaikat di bumi ini. Inilah yang membuat aku menjadikannya begitu istimewa, sekaligus khawatir dengan kecemburuan yang menggunung.

Pecinta mana yang tak cemburu jika kekasihnya senantiasa dinanti dan dipuja oleh lelaki lain? Tuhanpun senantiasa melafadzkan nama Laila kekasihku dengan begitu mesra.

Bahkan Laila selalu disebutnya lebih baik dari Nahar saudaranya, “Bukankah Laila senantiasa mendahului Nahar?”
Ungkap Tuhan padaku di suatu malam pada bulan ramadhan.
Membuatku nelangsa.

“Jangan bersedih begitu kekasihku, tidak cukupkah anugerah Tuhan dengan kerelaannya untuk berbagi kebahagiaan denganmu?” Rayu Lailaku dengan suara yang mendayu, selembut angin malam yang mendesir pelan di rimbun pokok bambu.

“Kebahagiaan apa!? Ini adalah siksa, Dia membakarku dengan api cemburu! Apa Dia tidak faham betapa dalam cintaku padamu!?” Jiwaku menggelora.

“Sssttttt….. jangan berisik cintaku, kau akan merusak kesunyian dan mengoyak kesenyapan yang menjadi hakekatku…”
“Tapi aku tidak bisa menerima perlakuan ini!” Sanggahku.
“Fahamilah, aku bukan kekasihmu abadi, aku bukanlah seorang pecinta, aku hanya hadir untuk membuktikan cinta Tuhan padamu.”

“Apa!!? Tuhan mencintaiku? Lalu kenapa ingin merampas dirimu dariku kekasihku?” Aku makin tidak mengerti.
Laila terdiam dalam.
Hanya desah nafasnya yang terdengar samar.

“Sadarlah, Laila kekasihmu ini hadir dengan kesunyian yang senyap hanya untuk menujukkan bahwa Tuhan tidak penah meninggalkan dan membencimu.”

Aku hanya terdiam mendengar Laila Al Qadry berceloteh, “Laila hanyalah washilah, kekasihmu ini cuma teman seperjalanan, bukan tempat berhenti, pun bukan tempat istirah dan lena. Hadirku yang demikian anggun dengan selimut gelap kelam ini adalah satu ayat bagimu agar kau mampu mencandra bahwa Tuhan adalah cahaya yang demikian benderang dan cerlang.”
Aku kian tergugu menyimak tuturnya.

“Hai jangan terdiam begitu dong…” Laila menguncang-guncangkan bahuku.

“Kau mau menegakkan shalat bersamaku malam ini kan? Ayo, kau harus bersuci, tak pantas seorang pecinta menemui kekasihnya dalam keadaan kotor.”

Laila menuntunku berdiri, aku berjalan terseok menuju pancuran di belakang rumah, langit cerah, bintang berkelip indah, namun gerimis menitis menerpa wajah.

Aku berwudhu perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara daras kalam suci melantunkan ayat terakhir ath thur, “wa mina llaili fasabbihhu wa idbaara nnujuum… Dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang.”

Kupungkas wudhu dalam gemetar, rasa bergetar, jiwa terasa lempang dan lapang, aku tersungkur bersujud. Tak sadar bibirku melafadz terbata, “Subhana lladzii asraa bi’abdihii laila…..
 
Copyright © 2013 | Muhammad Kasman | All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji